17 Februari 2013

Doa, Dupa, dan Peziarahan Cirebon [Bagian 1-6]


TEMPO.CO, [Okt 2012] Cirebon - Siang lepas zuhur, Imam, 35 tahun, khusyuk melafalkan kalimat La Ilaa ha Illa Allah di bangsal Pesambangan kompleks makam Sunan Gunung Jati, Gunung Sembung, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Suaranya mendengung, menggema di seluruh kompleks makam.

Serombongan dengannya, puluhan peziarah tua-muda, laki-perempuan, turut berdoa mengikuti alur zikir Imam. Mereka duduk bersila menghadap ke arah pintu Lawang Gedhe, yang seporos lurus ke arah kuburan Sunan Gunung Jati di puncak gunung.

Sudah lebih dari satu jam mereka membaca Tahlil, Yasin, dan Salawat Nabi di kompleks makam pada Mei 2010. Mereka percaya roh Sunan Gunung Jati yang dimakamkan di situ dapat membantu mendekatkan diri mereka dengan Tuhan, memberikan berkah, dan melapangkan jalan hidup.

Sementara itu, ribuan peziarah lain berdesak-desakan keluar-masuk kompleks makam, untuk antre mendapatkan tempat berziarah, menabur bunga, membaca Al-Quran, bersedekah, juga berbaur dengan ratusan pengemis dan para juru kunci makam.

Imam dan rombongannya berasal dari Kediri, Jawa Timur. Sudah empat hari rombongan naik bus menjalani wisata ziarah Wali Songo, yaitu wisata mengunjungi makam-makam sembilan wali penyebar Islam di Jawa pada abad ke-15 dan ke-16. Hari pertama dan kedua, mereka berziarah di makam-makam wali di seputar Surabaya dan Lamongan, Jawa Timur.

Hari ketiga di Tuban, Kudus, dan Semarang, Jawa Tengah. Kemudian di hari keempat, di makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat. “Sudah empat kali saya berkunjung ke sini,” ujar Imam, yang mengaku ziarah ke makam Sunan Gunung Jati selain untuk wisata dan beribadah, juga untuk mendapatkan karomah obat mujarab bagi kesembuhan saudaranya.

Sudah tiga tahun saudaranya sering mengalami demam dan sesak napas, meski telah diobati dokter. Untuk mendapatkan karomah itu, Imam menaruh satu botol air Aqua di depan pintu Lawang Gedhe tempatnya berdoa. Ia percaya selama ritual doa berlangsung, air dalam botol itu akan mendapatkan limpahan energi spiritual, yang kalau diminum, Insya Allah akan bisa membantu menyembuhkan sakit saudaranya.

Di Cirebon, rombongan Imam tinggal dua hari. Selain ke makam Sunan Gunung Jati, mereka juga mengunjungi berbagai situs peziarahan Islam yang banyak tersebar di Cirebon.
-----------------------------------------------------------

TEMPO.CO, Cirebon - Di Cirebon, banyak terdapat situs peziarahan Islam. Satu di antaranya adalah makam Sunan Gunung Jati. Imam, 35 tahun, dan rombongannya yang berasal dari Kediri, Jawa Timur, menyambangi makam Sunan Gunung Jati pada hari ketiga dari empat hari wisata ziarahnya.

Sunan Gunung Jati (1478-1568), atau Syarif Hidayatullah, yang mereka ziarahi, merupakan wali paling berpengaruh dalam pengislaman Jawa wilayah bagian barat. Ia juga pendiri dan raja pertama Kasultanan Cirebon.

Kompleks makam seluas 5 hektare yang telah berusia lebih dari enam abad itu terdiri dari sembilan tingkat pintu utama, yakni pintu Lawang Gapura di tingkatan pertama, pintu Lawang Krapyak, Lawang Pasujudan, Lawang Gedhe, Lawang Jinem, Lawang Rararoga, Lawang Kaca, Lawang Bacem, dan Lawang Teratai di puncak kesembilan.

Wisatawan hanya diizinkan berkunjung sampai bangsal Pesambangan, di depan pintu Lawang Gedhe, di tingkatan pintu keempat. Sedangkan pintu kelima sampai kesembilan terkunci rapat, hanya sesekali dibuka khusus bagi anggota keluarga Kerajaan Cirebon, atau orang yang mendapat izin khusus dari Keraton Kasepuhan Cirebon, atau pada momen-momen tertentu seperti pada malam Jumat Kliwon, Maulud Nabi, Gerebeg Idul Fitri, dan Gerebeg Idul Adha.

Pada saat itu, pintu satu hingga pintu ketujuh dibuka untuk umum, tetapi pengunjung tetap dilarang menerobos sampai ke bangsal Teratai, tempat kuburan Sunan Gunung Jati beserta istri-istrinya bersemayam. Di kompleks ini, pengunjung dilarang memotret, apalagi mengambil video. “Itu sudah peraturan. Mesti ditaati,” ujar Pak Tawi, 54 tahun, pemandu wisata dan juru kunci makam, kepadaTempo.
-----------------------------------------------------------

TEMPO.CO, Jakarta – Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu karya besarnya, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005), mengisahkan Cirebon muncul dalam arus utama sejarah Nusantara baru sejak masuknya Islam yang dibawa pedagang pribumi.

Di masa kejayaan Hindu, Cirebon kurang penting. Cirebon masuk peta sejarah, tak lepas dari kisah dan peranan Sunan Gunung Jati. Jejak-jejak wali penyebar Islam itulah yang kini menjadi tujuan ziarah ribuan wisatawan.

Di antaranya empat bangunan keraton di Cirebon yakni Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Keprabon, yang semuanya keturunan Sunan Gunung Jati. Sepeninggal Sunan Gunung Jati, pada 1677, Kasultanan Cirebon pecah menjadi tiga pemangku adat yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom dan Panembahan, yang masing-masing membawahi wilayah sendiri-sendiri, yakni Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Perguron Keprabon. Belakangan, Keraton Kanoman pecah memunculkan keraton baru yakni Kacirebonan.

Keraton Kasepuhan dan Kanoman
Memiliki arsitektur perpaduan Sunda, Jawa, Islam, Cina, dan Belanda, Keraton Kasepuhan merupakan istana tertua di Cirebon. Didirikan 1529 oleh Pangeran Mas Mohammad Arifin II, cicit Sunan Gunung Jati.

Ada banyak bangsal yang masing-masing memiliki fungsi sendiri-sendiri di kompleks istana. Di antaranya bangsal Prabayaksa, dindingnya dibangun dari keramik dinasti Ming 1424, Cina, dan keramik Delf Blue, dari Delf, Belanda, 1745.

Relief Delf Blue menceritakan perkelahian Habil dan Qobil keturunan Adam, cerita dari perjanjian lama dari Bibel, dan kisah percintaan Nabi Harun dan Siti Zulaikah. “Hadirnya keramik-keramik Cina dan Belanda menunjukkan semangat multikulturalisme dari keraton Cirebon sejak awal dibangun. Ini kerajaan Islam yang menghormati dan mengakui agama dan kebudayaan lain,” ujar Muhammad Maskun, lurah keraton Kasepuhan kepada Tempo.
Museum Keraton Kasepuhan menyimpan aneka koleksi bernilai tinggi seperti  wayang golek, topeng, keris, meriam, mebel, dan berbagai macam senjata api, samurai, dan perlengkapan perang hasil pampasan armada perang Portugis abad 15.  Di museum juga tersimpan Kereta Singa Barong yang telah berusia 500 tahun, dan Tandu Garuda Mina yang dianggap suci dan keramat.

Sedang Keraton Kanoman didirikan 1588 oleh Sultan Kanoman I atau Sultan Badridin. Museum keraton ini menyimpan banyak peninggalan Sunan Gunung Jati, di antaranya  kereta Paksi Naga Liman dan Paksi Jempana, yang dulu dipakai langsung Sunan Gunung Jati, dan masih terawat baik hingga kini.

Aktivitas wisata di kedua keraton ini tak lepas dari wisata peziarahan. Banyak pengunjung bersemedi dan membakar kemenyan di bawah kereta Singa Barong dan Tandu Garuda Mina di Keraton Kasepuhan, atau tirakatan di bawah kereta Paksi Naga Liman dan Jempana di Keraton Kanoman. “Kadang ada yang bertapa sampai beberapa hari,” ujar Maskun.

Mauludan, atau peringatan hari lahir Nabi Muhammad pada tanggal 12 bulan Maulud dalam kalender Jawa, merupakan puncak wisata peziarahan di kedua kompleks keraton ini. Pada perayaan Mauludan, dilakukan prosesi jamasan atau penyucian benda-benda pusaka kerajaan, dan aneka sesaji digelar di Bangsal Agung Panembahan. Ribuan peziarah datang membaca Al-Quran, berdoa, dan pada puncak perayaan berebut nasi tumpeng Gerebeg Maulud di alun-alun keraton.

Perayaan yang sama juga digelar pada kesempatan Gerebeg Syawal di hari raya Idul Fitri, dan Gerebeg Idul Adha. Prosesi yang sama juga dilaksanakan di keraton Kanoman.

Yang menarik, selain warga muslim, banyak juga warga Cina yang berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Di makam mereka berdoa, membakar hio, dan bersedekah uang kepada para pengemis di sekitar lokasi. “Salah satu istri Sunan Gunung Jati, bernama Ong Tien Nio, adalah putri kaisar Yung Lo dari Cina. Jadi, kehadiran warga Cina ke sini untuk menziarahi leluhur mereka juga,” kata Hasan, 70 tahun, bekel sepuh atau lurah juru kunci pemakaman Sunan Gunung Jati.

Para peziarah pribumi berdoa di depan pintu Lawang Gedhe, sementara peziarah Cina berdoa dan membakar dupa di bilik depan pintu Lawang Merdhu.

Setiap malam, kompleks makam ini juga ramai didatangi peziarah untuk berdoa, yang di dalam kosmologi Jawa, malam dipercayai merupakan waktu terbaik untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Di dalam kompleks juga terdapat Masjid Dog Jumeneng, atau Masjid Agung Sunan Gunung Jati, yang berkapasitas 3.000 orang.

Masjid ini dulu dibangun orang-orang Keling, yaitu orang-orang India Tamil, setelah mereka takluk dalam usaha penyerangan yang gagal terhadap kekuasaan Sunan Gunung Jati. Terdapat pula Paseban Besar, tempat menerima tamu; Paseban Soko, tempat musyawarah; dan Gedung Jimat, tempat penyimpanan guci-guci keramik kuno dari era Dinasti Ming, Cina, dan keramik-keramik gaya Eropa, terutama Belanda.

Tur ke Cirebon memang identik dengan wisata menziarahi situs-situs peninggalan Sunan Gunung Jati. Tak hanya kompleks makamnya di Gunung Sembung, tetapi juga berbagai situs peninggalannya yang tersebar di seantero Cirebon. Ini memang tak lepas dari sejarah Cirebon.
-----------------------------------------------------------

TEMPO.CO, Cirebon - Masjid Agung Sang Cipta Rasa berada tak jauh dari Keraton Kasepuhan, di Alun-alun Cirebon. Ini merupakan masjid keramat dan satu di antara masjid tertua di Jawa yang dibangun pada 1489 oleh Wali Songo.

Masjid ini merupakan pasangan dari masjid keramat lain dalam sejarah Islam di Jawa, yakni Masjid Agung Demak, di Demak, Jawa Tengah. Ketika masjid Demak dibangun oleh Wali Songo, Sunan Gunung Jati meminta izin membangun masjid kembarannya di Cirebon.

Tidak seperti masjid-masjid yang didirikan Wali Songo pada umumnya yang mempunyai bentuk atap tajug (berbentuk piramid) bersusun dengan jumlah ganjil, Masjid Agung Sang Cipta Rasa mempunyai bentuk atap limasan dan di atasnya tidak dipasang mahkota masjid. Sehingga masjid dini lebih tampak feminin dibandingkan dengan Masjid Agung Demak yang lebih berkesan maskulin.

“Seperti juga dalam cerita pendirian Masjid Demak, masjid ini juga dipercayai dibuat dalam waktu semalam oleh para wali. Untuk menandai peresmian kedua masjid, pada waktu magrib para wali salat berjamaah di Masjid Agung Cirebon, dan pada subuhnya mereka salat berjamaah di Masjid Agung Demak,” ujar Abidin, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon.

Di antara penanda bahwa masjid ini warisan dari era para wali adalah satu tiang penyangga atap di dalam masjid yang konon dibuat oleh Sunan Kali Jaga dari tatal (serpihan kayu), yang disatukan dan dibuat tiang. Konstruksi tiang ini sama dengan di Masjid Agung Demak. “Bedanya kalau di Masjid Demak tiang tatal itu kini telah diganti. Di Masjid Cirebon masih bisa dilihat keasliannya,” ujar Abidin.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan satu di antara situs terpenting dalam rangkaian wisata ziarah Sunan Gunung Jati. Masjid ini selalu ramai dikunjungi ribuan peziarah setiap hari, terutama pada malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Biasanya orang datang untuk berzikir dan tirakat malam di sini. Para peziarah percaya akan mendapatkan berkah dan kemudahan dalam hidup jika melaksanakan ibadah dan tirakatan di masjid wali ini.
-----------------------------------------------------------

TEMPO.CO, Cirebon - Cerita tentang Walisongo, tak lepas dari satu walinya yang paling berpengaruh yaitu Sunan Kalijaga, yang juga mempunyai jejak di Cirebon. Petilasan Sunan Kalijaga terletak di Barat Sungai Sipadu, di Jalan Pramuka, Desa Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Dikenal juga sebagai Taman Kera, karena ada ratusan kera yang hidup di situs ziarah sekaligus taman konservasi ini.

Menurut kepercayaan warga setempat, Sunan Kalijaga di abad 15 pernah bertapa dan tinggal di sini untuk turut membantu Sunan Gunung Jati dalam pendirian Kerajaan Cirebon.

Sebagai situs peziarahan, setiap hari puluhan orang datang untuk ziarah dan berdoa. Bulan Ramadan merupakan masa paling ramai di petilasan ini. Ribuan orang datang untuk berdoa, atau sekadar berwisata. Petilasan ini dipercaya juga sebagai tempat mencari ‘pesugihan’ di Cirebon.

Makam Syeh Siti Jenar

Sosok kontroversial dalam sejarah Walisongo yaitu Syeh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang makamnya dipercayai  berada di Desa Kemlaten, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Tak jauh dari situs petilasan Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu musuh besarnya. Jurnalis dan sastrawan Seno Gumira Ajidarma pada 2007 melakukan napak tilas menelusuri situs-situs makam Walisongo dari Tuban hingga Cirebon. Ia meyakini situs makam Syekh Lemah Abang di Kemlaten, Cirebon, kemungkinan benar kuburan Syekh Siti Jenar.

Syekh Siti Jenar adalah seorang wali kontroversial, yang meninggal setelah dihukum mati oleh dewan penyebar Islam di Jawa, Walisongo, karena ajarannya dinilai sesat. Tesis ini sesuai dengan keterangan dalam buku Babad Cerbon yang menerangkan asal kata Desa Kemlaten dari kata Melati atau bau wangi bunga Melati yang keluar dari jasad Syekh Siti Jenar ketika makamnya dibongkar.

Sebuah versi antistory menceritakan, Sunan Gunung Jati kemudian telah mengirim empat pasukan kepercayaannya, yakni Ki Lodaya, Ki Bawuk, Ki Torek dan Ki Loreng untuk membongkar makam musuhnya yang dikeramatkan penduduk setempat ini, dan mengambil isi jasadnya untuk dibuang entah ke mana, dan kemudian diganti dengan jasad bangkai anjing.

Namun versi cerita ini tak pernah berhasil menjadi cerita arus utama yang memudarkan kepercayaan rakyat. Hingga kini, makam yang telah berusia enam abad lebih itu, tetap diziarahi dan dipercaya sebagai makam Syekh Siti Jenar yang sebenarnya.

Makam itu sederhana, hanya berupa satu cungkup kuburan 180 x 90 sentimeter yang dipayungi kelambu putih. Situs ini satu di antara situs peziarahan penting di Cirebon, yang tak pernah sepi dikunjungi peziarah. Mereka biasanya ziarah menabur bunga, berdoa, membaca Al-Quran atau Salawat Nabi di lokasi makam keramat ini, terutama pada malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon.

Selain situs-situs wisata ziarah berbasis jejak Sunan Gunung Jati seperti ditulis di atas, di Cirebon masih banyak situs-situs ziarah lain. Di antaranya; Masjid Merah Panjunan, Masjid Pejlagrahan, Masjid Jagabayan, Situs Kejawan, Situs Ketandan, Situs Makam Syekh Maghribi, dan Petilasan Pengeran Drajat, Gua Sunyaragi, dan taman wisata Plangon.
-----------------------------------------------------------

TEMPO.CO, Jakarta - Cirebon sejak awal merupakan kota multikultur. Posisinya yang berada di pinggir pantai utara Jawa memungkinkan menjadi oase akulturasi banyak kebudayaan, agama, dan ras.

Salah satunya Cina. Di Cirebon terdapat Kelenteng Dewi Welas Asih atau Kelenteng Tiau Kak Sie yang merupakan kelenteng tertua dan tempat peziarahan masyarakat keturunan Cina.

Dibangun pada 1595, kelenteng ini berada di Jl. Kantor No. 2, Desa Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Tak jauh dari wilayah Keraton Kasepuhan.

Bangunan kelenteng terdiri atas serambi dan ruang utama. Di sisi kiri ruang utama terdapat altar Dewa Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi) dan altar Dewa Seng Hong Yah (Dewa Akhirat). Di tengah ruang terdapat tempat abu, dua pembakaran hio, dan dua gentong abu. Sementara itu, di sisi kanan ruang utama terdapat altar Lak Kwan Yah (Dewa Dagang) dan Couw Su Kong (Dewa Dapur).

Sedangkan pada ruang suci utama yang berada di belakang ruang utama terdapat patung dewa utama Kwam Im Posat, Thian Seng Bo (Dewa Laut/Pelayaran) dan Kwan Te Kun (Dewa Perang). Di depan masing-masing dewa itu terdapat meja altar yang di atasnya terdapat tempat abu dan lilin yang tak pernah padam.

Di serambi kelenteng terdapat sebuah jangkar sepanjang dua meter yang dipercaya sebagai jangkar bekas peninggalan armada Laksamana Cheng Ho yang pernah berkunjung ke Cirebon sekitar 1430-1433. Kelenteng Dewi Welas Asih tak pernah sepi sebagai pusat peribadahan dan peziarahan orang Cina di Cirebon.

WAHYUANA| IVANSYAH (CIREBON)

0 komentar:

Poskan Komentar