photo s5_zps75efb4c4.jpg

GUNUNG JATI CIREBON

Dari Gunung Jati Lestari Budaya dan Tradisi Nusantara. CIREBON: THE GATE OF SECRET Jeh...

 photo s3_zpsb2fdc0f2.jpg

EKSPRESI SANG SAMBA

Ekspresi Sang Samba ketika moment Ngisreni Sanggar Seni Sindung Aluwung Jati, Desa Astana, Gunung Jati, Cirebon 2010, jeh...

 photo s2_zps4efd0fc7.jpg

BENDERA CIREBON

Ketika moment lounching buku Bendera Cirebon di Musium Tekstil, Jakarta 2012, jeh...

 photo s4_zps61ff4fef.jpg

GENERASI TOPENG CIREBON

Samba-samba kecil Sanggar Primatari ketika menunggu antrean berekspresi pada moment tradisi Nadran dan Sedekah Bumi, Gunung Jati, Cirebon 2012, jeh...

 photo s1_zps31c941db.jpg

TAWA SANG KLANA

Aksi Rampak Topeng Klana Sanggar Sekar Pandan Keraton Kacirebonan pada moment Rutin Pentas Bulanan Sanggar Sekar Pandan, Cirebon 5 Januari 2013, jeh...

20 April 2013

Anomali Nadran Gunung Jati

A. Pendahuluan

Hampir setiap tahun masyarakat Cirebon khususnya masyarakat petani dan nelayan yang tinggal di Kecamatan Cirebon Utara (sekarang Kecamatan Gunungjati dan Suranenggala) selalu mengadakan upacara Nadranan. Upacara Nadranan berlangsung tiga hari tiga malam.
Puncak dari serangkaian upacara yang berlangsung tiga hari tiga malam tersebut terjadi pada acara-acara sebagai berikut :

Ider – Ideran atau Helaran yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat Cirebon, mulai dari Sultan, Kerabat Keraton, Wong Kraman, seniman, budayawan, pedagang, nelayan dan petani.

Ider – ideran nadran Gunung Jati berbentuk ider naga, yaitu pola ider-ideran yang berlawan dengan jarum jam.

Lelumban atau lumbanan, adalah acara lelumban berangkat dari kanal condong menuju Muarajati (Bengawan Celangcang). Dari awal sampai akhir perjalanan lelumban ada beberapa stasiun-stasiun pemberhentian perahu antara lain adalah:

- Situs Nyi Rinjing (Condong)

- Situs Ki Alap-alap (Condong)

- Situs Ki Pandu (Muara)

- Situs Ki Ilir (Muara)

Ruatan Sedekah Bumi di Bangsal Peringgitan Astana Gunungjati
Ruatan Budug Basu ditepi Kali Condong.

Di malam harinya seluruh jenis tontonan atau hiburan ditampilkan didepan alun-alun Astana Nurgiri Ciptarengga. Jenis-jenis tontonan tersebut adalah wayang kulit, wayang cepak, topeng, sandiwara, tarling dan organ tunggal. Rombongan kesenian tersebut tampil di acara Nadran ini tanpa diberi bayaran. Mereka melakukan semua ini demi atur bakti kepada Sunan Gunung Jati dan leluhur-leluhur pendiri Cirebon. Mereka hanya diberi konsumsi oleh para juru rawat makam Sunan Gunung Jati. Walaupun tidak dibayar namun para rombongan kesenian ini melakukannya dengan penuh keikhlasan. Mereka mengadakan pagelaran dihadapan Astana Nurgiri Ciptarengga ini untuk melakukan nadzar sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas dilimpahkannya rejeki kepada mereka. Begitu pula dengan rombongan pecara-pecara yang diarak dalam ider-ideran. Pecara ini dibuat oleh warga dari masing-masing RW (Rukun Warga) yang tinggal di dekat Kecamatan Cirebon utara. Biaya yang dihabiskan setiap RW dalam membuat pecara ini jumlahnya relatif. Ada yang menghabiskan biaya 4 juta, 7 juta bahkan ada suatu RW yang menghabiskan biaya hingga 12 juta lebih. Biaya yang tidak sebanding jika upaya yang mereka lakukan kalau hanya untuk mendapat hadiah juara satu yang hanya berupa seekor kambing.

Upacara Nadranan telah mengalami dinamika yang cukup panjang sepanjang usia Cirebon yang telah memasuki enam abad lebih. Kini Upacara Nadranan tidak hanya milik masyarakat Kecamatan Gunung Jati dan Suranenggala saja, namun telah menjadi milik seluruh masyarakat Cirebon dari seluruh lapisan masyarakat.

B. Asal-usul Upacara Nadran

Banyak yang tidak tahu mengenai asal-usul upacara Nadran di Gunung Jati. Sebetulnya penggagas dari upacara Nadran tersebut adalah Ki Ageng Tapa atau Ki Jumajan Jati sang Juru Labuan Muara Jati yang mensyukuri putrinya telah menamatkan pendidikan pesantrennya di Karawang. Iring-iringan ider-ideran di mulai dari pesantren Pasambangan Jati yang di asuh oleh Syeikh Nurjati. Pada waktu itu Pasambangan Jati selain sebagai pusat Pendidikan Islam juga berfungsi sebagai pusat perdagangan. Pedagang-pedagang dari pedalaman datang melalui jalur darat dan jalur sungai bertemu di pusat perputaran ekonomi di Pasambangan Jati sebagaimana di beritakan oleh naskah Purwaka eng Giri Caruban Nagari. Kala Samana Sinuka Sembung lawan ngamparan jati huwus mangadeg lawas. Pasambangan Dukuh wastanya //pratidina janmapadha ikang doh-tinuku samya atekeng engke / i sedheng parireran kang prahwa muhara jati dumudi akrak / mapan ri nanawidha kang palwa nintyasa mandeg enkene // pantura ning yata sakeng cina nagari / nyarab / parsi / indiya/ Malaka / tumasik / pase(h) / jawa wetan Madura lawan Palembang / (Acha, 1986, 121-122).

Pada syukuran Ki Ageng Tapa yang merasa bahagia atas keberhasilan putrinya mendalami agama Islam kepada Syeikh Kuro di dukung pula oleh Syeikh Nurjati dan seluruh masyarakat pedagang nelayan dan petani yang merasa berterima kasih kepada Ki Ageng Tapa karena mereka diberi tempat untuk memasarkan hasil mata pencahariannya di pasar Pasambangan Jati. Ider-ideran juga memiliki makna untuk syiar Islam kepada masyarakat Cirebon yang pada saat itu masih banyak yang belum memeluk agama Islam. Dalam ider-ideran yang di arak menuju kediaman Ki Ageng Tapa di desa Singhapura (sekarang Sinarbaya) tidak hanya di ikuti oleh bangsa manusia tetapi juga diikuti oleh bangsa Jin, Peri, Setan, Siluman dan Sileman Merakayangan. Wujud mereka macam-macam, ada yang berupa hewan darat, hewan laut, binatang melata dan makhluk prabangsa. Wujud mereka ada yang berupa buaya, ular naga, bulus, ikan, macan, gajah, kerbau, kuda dan lain-lain. Selain makhluk-makhluk dari berbagai jenis yang menghuni Cirebon mereka juga ada yang datang dari negeri jin dan bangsa alus lainnya, antara lain dari Tanjung Karoban (alas roban) yang berbentuk manusia yang berkulit hitam legam. Dari Ujung Krangkeng, Ujung Kapetakan, Ujung Pekik yang berupa buaya dan hewan laut yang menakutkan, juga ada yang datang dari Tajung Bang (Ujung Gebang) yang berupa siluman dengan wujud hewan darat.

Menurut Hasanudin, kliwon dari Desa Martasinga, mengatakan bahwa ‘peran serta bangsa merkayangan dan bangsa alus lainnya dalam ider-ideran Keraton Singapura ini adalah karena mereka merasa terayomi dengan kedatangan Islam yang dibawa oleh Syeikh Nurjati dan Syeikh Kuro, apalagi Sekar Kedaton Keraton Singapura telah memeluk agama Islam. Islam sebagai agama rahmatan lil alamin telah dirasakan juga oleh bangsa gaib ini.’

Ider-ideran Keraton Singapura yang berbentuk ider naga ini dimulai dari Pasambangan Jati atau Bukit Amparan Jati menuju Singhapura (sekarang Desa Sirnabaya). Selama ider-ideran berjalan menuju arah utara, kelompok manusia dari pemukiman-pemukiman yang dilewati langsung ikut bergabung dengan rombongan begitu pula dengan bangsa siluman yang keluar dari kampung dan hutan yang dilewati juga ikut bergabung. Tidak ketinggalan juga bangsa siluman yang datang lewat Kali Pekik, Terusan Condong, Bengawan Ciliru (Bondet), Bengawan Celangcang dan Bengawan Kapetakan ikut bergabung. Ider-ideran ini dimulai setelah dhuhur dan sampai ke Singhapura menjelang magrib. Pada waktu magrib ider-ideran ini melakukan sholat magrib ditempat pemberhentian mereka. Lampu penerangan yang digunakan adalah obor dan damar sewu.

Setelah berakhir di Singhapura mereka diterima oleh Ki Ageng Tapa dan Sekar Kedaton Singhapura yaitu Ratna Subang Kranjang atau Dewi Kencana Larang.

Pada waktu Pangeran Walangsungsang menjadi Tumenggung Cirebon dengan gelar Tumenggung Sri Mangana, ider-ideran ini keraton Singhapura ini tetap di laksanakan. Pangeran Cakrabuana tidak mengubah sedikitpun bentuk ider-ideran ini. Pola ider naga yang berbentuk berlawanan dengan arah jarum jam juga tetap di laksanakan karena tujuan dari ider-ideran ini menuju Keratuan Singhapura. Walaupun Ki Ageng Tapa dan Ratna Subang Kranjang ( Ibu dari Pangeran Cakrabuana ) telah wafat, namun tidak mengubah tempat tujuan dari ider – ideran tersebut, Mande peninggalan Keratuan Singhapura yang telah berubah menjadi situs tetap di hormati dan dikunjungi.

Pada masa Pangeran Cakrabuana memerintah sebagai Tumenggung Cirebon upacara ini di pimpin oleh pangeran Cakrabuana sendiri. Perbedaan corak pemerintah Cirebon yang telah menjadi pemerintah Islam, Walaupun masih dibawah proktetorat Pajajaran yang masih menganut agama Kesangyangan, Hindu, Budha. Tidak mengubah kebijakan pangeran Cakrabuana untuk melaksanakan upacara ider – ideran Kraton Singhapura ini. Upacara ider – ideran ini bahkan didukung oleh parade prajurit yang telah dibentuk oleh pangeran Cakrabuana, jenis – jenis prajurit bentukan dari pangeran Cakrabuana adalah Pasukan Badak (Pasukan dari para pemilik sikep ) Pasukan Suratoni ( pasukan sukarelawan dari para petani ) dan Pasukan Baksa ( Babak Yasa ).

Pada tahun 1404 Saka atau tahun 1482 Masehi Pangeran Cakrabuana mundur dari jabatannya sebagai Tumenggung Cirebon, Kemudian pangeran Cakrabuana melantik keponakan sekaligus menantunya yaitu Syeikh Syarif Hidayatullah menjadi Tumenggung Cirebon ke 2, setelah dilantik menjadi Tumenggung Cirebon ke 2 langkah politik yang pertama dilakukan oleh Syeikh Syarif Hidayatullah adalah memutuskan hubungan dengan negara pelindung Cirebon, Yaitu Pajajaran dengan tidak mengirim upeti yang berupa garam dan terasi, Langkah ini didukung oleh Pangeran Cakrabuana dan Sunan Ampeldenta sebagai ketua Dewan Walisanga, Pangeran Cakrabuana menobatkan Syeikh Syarif Hidayatullah dengan pakar Sunan Jati Purbawisesa dan Sunan Ampeldenta memberi gelar Sunan Cirebon Sinurat Sunda, Namun gelar yang populer kemudian adalah Sunan Gunung Jati.

Pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, ketika Cirebon sudah menjadi negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Ider- ideran Keratuan Singhapura, Lelumbon dan Ngunjung serta sedekah bumi di Bukit Amparan Jati dan Persambangan Jati tetap dilaksanakan, Upacara tersebut diatas yang terdiri dari beberapa rangkaian ritual kemudian lebih dikenal dengan upacara Nadran Gunung Jati, Pecara- pecara dibuat sebagai bentuk atur bekti kepada Sunan Gunung Jati. Begitu juga hiburan – hiburan yang disajikan dalam upacara Nadran tersebut Khusus untuk Lelumbon, Ritual diadakan dialiran Kanal Condong menuju pelabuhan Muara Jati ( Bengawan Celangcang ), Stasiun – stasiun pemberhentiannya adalah, Nyi Buyut Rinjing, Ki Buyut Alap – Alap yang dikuburkan ditepi Kanal Condong, kemudian menyusuri pantai laut jawa dan dilanjutkan memasuki aliran sungai Bengawan Celangcang, Dipelabuhan Muara Jati ini stasiun pemberhentiannya adalah Ki Buyut Ilir dan Ki Buyut Pandu. Rombongan Lumbanan ini berhenti untuk melakukan ziarah berdoa bersama kemudian setelah selesai makan bersama. Menurut Hasanudin, kliwon desa Mertasinga, Ketika rombongan Lumbanan itu sedang makan bangsa siluman yang ada dilaut datang dan menghadap Ki Ageng Tapa mereka bertapa, “ Tuan Tolong barokahnya dibagikan kepada kami juga “, Kemudian Ki Ageng Tapa Menjawab, “Baik, Nanti tahun depan kami akan bawakan makanan untuk kalian”, Janji Ki Ageng Tapa untuk memberikan makanan pada tahun depan disebut Nadzar, Dari kata Nadzar inilah kata Nadranan terbentuk, Kemudian pada tahun depannya Nadzar Ki Ageng Tapa dilaksanakan dengan menyembelih seekor kerbau, Daging dari badan kerbau dimakan untuk manusia, Sedangkan kepalanya untuk bangsa siluman yang tinggal di laut. Sikap Ki Ageng Tapa ini bukan untuk memberi persembahan kepada bangsa halus sebagai tunduk kepada bangsa mereka, Tetapi sebagai bentuk keperdulian sebagai sesama mahluk Tuhan juga sebagai sikap seorang pemimpin yang bertanggung jawab untuk memelihara keseimbangan lingkungan hidup di darat maupun di laut, Sikap ini sebagai perwujudan bahwa Islam Rahmatan lil alamin.

Sikap Ki Ageng Tapa yang perduli terhadap Keseimbangan ekosistem lingkungan hidup ini kemudian dilanjutkan oleh para turunannya, mulai dari Pangeran Cakrabuana, Sunan Gunung Jati dan Sultan – Sultan yang memerintah kerajaan Cirebon. Pada masa pemerintah Sunan Gunung Jati, Nadran merupakan ritual kenegaraan terbesar setelah muludan, moment Nadran dimanfaatkan oleh Sunan Gunung Jati untuk mengajarkan rasa bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan rezeki baik dari hasil bumi maupun hasil laut, Persembahan rasa syukur diwujudkan oleh rakyat Cirebon dalam bentuk persembahan hasil bumi yang terbaik mereka, Seperti Padi, Palawija, Buah – buahan dan Sayur – sayuran untuk doa selamatan, Begitu juga dengan para nelayan yang mempersembahkan hasil tangkapan lautnya yang berupa Ikan, Udang, Kerang, Rajungan, Cumi – cumi dan yang lainnya.

Selain untuk menumbuhkan rasa syukur kepada Allah, Nadran juga digunakan untuk konsolidasi jajaran pemerintahan dan prajurit kerajaan Cirebon yang sudah terbentuk dengan sempurna pada waktu itu, adapun jenis – jenis pasukan yang sudah dibentuk pada masa Sunan Gunung Jati adalah :

- Pasukan Suratani ( pasukan dari para petani )

- Pasukan Badak ( pasukan yang diambil dari pemilik sikap )

- Pasukan Jagabaya ( pasukan keamanan dalam negeri )

- Pasukan Jagasatru ( pasukan penangkal serangan dari luar )

- Pasukan Bhayangkara ( Pasukan anti huru hara )

- Pasukan Kraman atau Wong Kraman ( pasukan pengawal raja )

- Pasukan Yudaka Bugis ( pasukan telik sandi dari bugis )

- Psukan Limbur Kencana ( pasukan pengempuran )

- Pasukan Windu Jaya ( pasukan berkuda )

- Pasukan Jalasutra ( pasukan pengacau lawan )

- Pasukan Suranenggala ( pasukan penggempur )

- Pasukan Sarwajala ( pasukan angkatan laut )

( Ki Kartani, Historiografi Cirebon )

Mengingat nadranan adalah merupakan salah satu ritual rakyat Cirebon yang didukung oleh pemerintah kerajaan Cirebon pada masa itu, kemungkinan besar gelar para pasukan juga dilibatkan, moment ini sangat bermanfaat bagi Sunan Gunung Jati untuk mengetahui kondisi kekuatan Cirebon pada masa itu, Kemungkinan besar juga keterlibatan langsung Sunan Gunung Jati dalam memimpin upacara itu sangat besar, Sebab enam abad lebih sepeninggal Suanan Gunung Jati, Masyarakat Cirebon tetap menghargai beliau, Masyarakat Cirebon mempersembahkan Nadran sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Allah SubhanaWata’ala dan sebagai bentuk atur bekti kepada leluhur.

C. Anomali Upacara Nadran

Setelah sekian abad berjalan, dari jaman Hindu, jaman transisi Hindu-Islam, jaman Kasunanan, jaman Kepanembahan, jaman Kesultanan, jaman Kemerdekaan, jaman Orde Lama dan Orde Baru upacara nadran ini tidak mengalami perubahan yang substansial. Namun menjelang di akhir penghujung pemerintahan orde baru (1998 ) terjadi sebuah insiden yang melibatkan tawuran antara remaja dusun Sembung, Sirnabaya, Parit dan Kalisapu yang menodai jalannya upacara ider-ideran tersebut. Kemudian pihak polres Kecamatan Cirebon Utara melarang upacara tersebut dilaksanakan. Sekitar 2 tahun upacara itu tidak dilaksanakan. Kemudian pada tahun 2005 Upacara nadran dilaksanakan kembali. Namun arah ider-ideran dirubah, tidak lagi berbentuk ider naga, namun arah putarannya ke arah jarum jam, yaitu menuju ke arah selatan hingga berakhir di depan Karesidenan Cirebon (gedung negara).

Kebijakan perubahan arah ider-ideran ini tentu saja menimbulkan dampak yang tidak kecil. Konsekuensi positif dan negatif dari adanya perubahan arah ider-ideran ini tidak bisa terhindarkan lagi. Dampak positifnya adalah:

  • Faktor keamanan lebih kondusif
  • Antusiasme masyarakat makin besar sebab secara tidak langsung masyarakat Cirebon yang tinggal di kotamadya Cirebon juga ikut menyaksikan. Bahkan Kabid Pariwisata Kota Cirebon Drs. Chaerul Salam, M. Hum memandang upacara Nadran ini sebagai event yang bisa dikembangkan ke arah event pariwisata kota juga dengan melanjutkan ider-ideran ini untuk melewati kawasan kota.
  • Secara ekonomis kegiatan ini makin meningkatkan omzet pedagang kecil yang berjualan disekitar wilayah event itu di gelar.
  • Potensi Pariwisata; Dini Rosmalia, MT,ST seorang kandidat Doktor dari ITB melihat potensi wisata Nadran ini cukup tercengang, “Upacara Nadran ini bisa lebih dahsyat dari Upacara Ngaben di Bali”, katanya. Namun beliau menyayangkan peran pemda yang belum maksimal dalam mengemas atraksi wisata ini. Kinilah saatnya kewajiban Dinas Pariwisata untuk dapat menata event Nadran ini menjadi lebih baik.

Selain dampak positif tentu ada dampak negatifnya. Adapun dampak negatifnya adalah:

  • Nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam upacara Nadran ini menjadi terputus dari generasi sebelumnya. R.Udin Khaerudin, MA, Camat dari kecamatan Losari, mengatakan bahwa, “Kita harus menyambungkan kembali benang merah sejarah yang telah terputus dengan mengembalikan arah ider-ideran ini ke arah semula, yaitu arah yang menuju ke utara ke arah lokasi Keratuan Singhapura pernah berdiri. Kita tidak boleh menghilangkan jejak-jejak sejarah leluhur kita”, katanya lagi.
  • Hilangnya spirit dari substansi acara Nadran, khususnya ider-ideran. P. Panjijaya Prawirakusuma, sesepuh wargi keturunan P. Suryajanegara dan ketua masyarakat adat nelayan Lawang Gede, mengatakan bahwa “dahulu ketika ider-ideran melewati Mertasinga, waktu sudah menjelang petang sehingga para peserta ider-ideran ini berhenti untuk sholat Maghrib. Setelah itu ider-ideran di lanjutkan dengan menyalakan obor dan lampu penerangan lainnya. Menurut P. Panji lagi, upacara Nadran identik dengan syiar Islam. Jika kita merubah berarti kita telah melupakan tuntunan ajaran Islam.
  • Limbah ider-ideran atau sampah sisa dari kegiatan ider-ideran tercecer kemana-mana, bahkan sampai ke wilayah kota. Menurut beberapa orang pejabat pemerintah kota yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa inilah sampah dari orang kabupaten kalau memiliki hajat pemerintah kota hanya kebagian residunya saja.
  • Kemacetan Lalulintas. Kemacetan lalulintas akibat arah upacara Nadran itu berimbas ke wilayah kota dan jalur jalan Cirebon – Jakarta, Cirebon – Bandung. Secara otomatis akibat lumpuhnya jalur Cirebon – Indramayu selama lebih kurang 7 jam, volume kendaraan dialihkan ke jalur Cirebon – Jakarta, Cirebon – Bandung, jalan raya Kedawung menjadi macet total.

Sayang sekali kalau ritual yang begitu menghabiskan dana hingga ratusan juta itu harus tercabut dari akar budayanya. Para leluhur Cirebon di alam barzah pasti sedih melihat upacara nadran ini hanya tinggal keramaiannya saja, tanpa memberi makna yang cukup berarti bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Keprihatinan P. Panjijaya sebagai sesepuh keturunan Wargi Martasingha, R. Udin Khaenudin sebagai Ketua DBC (Dewan Budaya Cirebon) dan Hasanudin sebagai aparat pemerintahan desa Mertasingha, merupakan suatu protes terhadap keadaan yang semakin jauh dari tuntunan. Pihak-pihak yang memiliki tangan-tangan kokoh mestinya dapat mengembalikan upacara Nadran khususnya ider-ideran ke bentuk semula. Orang-orang yang memiliki sabda-sabda yang sakti juga seharusnya mengajak kepada aparat terkait untuk memperbaiki institusi budaya yang sudah berusia ratusan tahun ini supaya berjalan diatas rel yang seharusnya.

Kami hanya sekelompok orang lemah yang sama seperti masyarakat yang tinggal di bekas wilayah Kraton Singhapura (Kecamatan Suranenggala dan Kecamatan Gunungjati) hanya berharap di hati kecil kami agar pihak yang diberi kewenangan memerintah untuk bisa mengembalikan upacara adat ini sesuai dengan spirit awal yaitu syiar Islam, semangat kebersamaan dan semangat untuk memelihara sesama mahluk Allah dan lingkungan sekitar kami. (Penulis : Rafan S. Hasyim)

09 April 2013

Rastika: Seniman Lukis Kaca Cirebon


Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa/2011
Lahir di Gegesik Kulon, Kecamatan Gegesik, Cirebon, Jawa Barat pada tahun 1942. Anak pasangan Tarsa dan Rubiyem ini belajar melukis sejak usia 10 tahun. Kepandaian sang kakek yang semasa hidupnya terkenal sebagai seorang pengukir keris rupanya menurun kepadanya. Ketika duduk di bangku sekolah, secara diam-diam Rastika suka menggambari Sabak (batu tulis) dengan motif wayang Cirebon.

Secara otodidak, Rastika mulai belajar mengenai motif batik Cirebon yang menyertai seorang tokoh wayang. Tahun 1960-an, ketika berusia belasan tahun, Rastika mulai melukis diatas kertas. Tetapi, ketika ia melihat para pelukis kaca senior seperti Maruna, Saji dan Sudarga melukis diatas kaca, secara diam-diam Rastika mencobanya di rumah, lalu ia tunjukan kepada Sudarga. “Dia bilang lukisan saya bagus”,”ujarnya. Dari situlah Rastika mulai menekuni melukis diatas kaca dan pembeli lukisan pertamanya bernama Sukirno, tetangganya sendiri.

Narasi lukisan Rastika umumnya merupakan suatu penggambaran antara baik dan buruk, hukuman dan kejahatan, angkara dan samadi, dalam pola dan motif yang berasal dari kisah-kisah legenda dan pewayangan, dengan motif campuran antara Jawa-Hindu, Islam dan Cina yang telah bertranformasi.

Tahun 1977, Rastika ikut serta berpameran di Pasar Seni ITB, ia di ajak oleh pelukis Hariadi Suadi yang juga dosen seni grafis Fakultas Seni Rupa ITB. Waktu itu Rastika berpameran bersama Sudarga, masing-masing memamerkan lima lukisan. Lukisan Semar dengan Dua Kalimat Syahadat karya Rastika pun terpampang dSejak itulah namanya mencuat. Banyak orang yang mengemari karyanya.

Seingat Rastika sampai sekarang, ia sudah berpameran sebanyak 15 kali, baik bersama-sama maupun tunggal. Tetapi, tak ada satu pameran yang ia selenggarakan sendiri, “Semuanya di prakarsai orang”, katanya. Pameran tunggal dan bersamanya antara lain di Taman Ismail Marzuki, Bentara Budaya, dan berbagai hotel di Jakarta. Lukisan kacanya juga pernah ditampilkan dalam Pekan Raya Jakarta 1978, di Mitra Budaya milik perkumpulan pencinta kebudayaan di Jakarta, bahkan ketika Semarang mengadakan pameran kaligrafi dalam MTQ Xl Rastika juga turut serta.

Pernah mempersembahkan lukisan kaligrafi Semar dengan Dua Kalimat Syahadat yang dibuatnya kembali kepada Presiden Soeharto dalam upacara pembukaan Museum Indonesia di TMII. Lukisan-lukisannya banyak dimiliki oleh para kolektor antara lain : Karna Tanding, Begawan Mintaraga, Anoman Obong, Aji Candrabirawa, Bima Suci dan Kumbakarna Gugur. Salah satu lukisannya diberi nama Citra Indonesia terpampang dimuseum Indonesia TMII. karya-karya Rastika, kini juga bisa dilihat di Museum Wayang, Jakarta

Selain melukis diatas kaca, Rastika juga mahir dalam sungging dan tatah wayang kulit serta wayang golek cepak. Ia pun sangat pandai menabuh gamelan dan ikut bergabung dalam satu kelompok pertunjukan wayang kulit di desanya. Membuat sebuah galeri kecil didepan rumahnya, di Gegesik Kulon, Gegesik, Cirebon, Jawa Barat yang melahirkan karya-karya yang unik dalam khasanah seni lukis Indonesia.

Nama : Rastika

Lahir : Gegesik Kulon, Gegesik, Cirebon, Jawa Barat 1942

Pendidikan : Sekolah rakyat(hanya sampai kelas 5),

Penghargaan : Bentara Budaya Award (2012)


14 Maret 2013

Biografi Syekh Nurjati


Syekh Nurjati dikenal sebagai tokoh perintis dakwah Islam di wilayah Cirebon. Beliau menggunakan nama Syekh Nurjati pada saat berdakwah di Giri Amparan Jati, yang lebih terkenal dengan nama Gunung Jati, sebuah bukit kecil dari dua bukit, yang berjarak + 5 km sebelah utara Kota Cirebon, tepatnya di Desa Astana Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon.

Sebelumnya Syekh Nurjati dikenal dengan nama Syekh Datul Kahfi atau Maulana Idhofi Mahdi. Secara kronologis singkat, Syekh Nurjati lahir di Semenanjung Malaka. Setelah berusia dewasa muda pergi ke Mekah untuk menuntut ilmu dan berhaji. Syekh Nurjati pergi ke Bagdad dan menemukan jodohnya dengan Syarifah Halimah serta mempunyai putra- putri. Dari Bagdad beliau pergi berdakwah sampai di Pesambangan, bagian dari Nagari Singapura (sekarang Desa Mertasinga,  Kabupaten Cirebon). Beliau wafat dan dimakamkan di Giri Amparan Jati.

Cerita tentang Syekh Nurjati dijumpai dalam naskah-naskah tradisi Cirebon yang merupakan bukti sekunder. Naskah-naskah tersebut berbentuk prosa, diantaranya : Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda dan Sejarah Cirebon. Serta naskah yang berbentuk tembang di antaranya  Carub Kanda, Babad Cirebon, Babad Cerbon terbitan S.Z. Hadisutjipto, Wawacan Sunan Gunung Jati, Naskah Mertasinga, Naskah Kuningan dan Naskah Pulasaren.  Dari sekian banyak naskah hanya naskah Babad Cirebon terbitan Brandes saja yang tidak memuat tentang Syekh Nurjati. Sedangkan naskah tertua  yang menulis tentang Syekh Nurjati dibuat oleh Arya Cerbon pada tahun 1706 M.

Syekh Nurjati di Tempat Kelahiran, Malaka, Pertengahan Abad ke-14

Syekh Nurjati ketika lahir dikenal dengan nama Syekh Datuk Kahfi, putra dari Syekh Datuk Ahmad, seorang ulama besar. Syekh Datuk Ahmad putra dari Maulana Isa, yang juga seorang tokoh agama yang berpengaruh pada zamannya. Syekh Datuk Ahmad mempunyai adik yang bernama Syekh Datuk Sholeh, ayahanda dari Syekh Siti Jenar (Abdul Jalil). Jadi Syekh Datul Kahfi adalah saudara sepupu dari Syekh Siti Jenar. Maulana Isa adalah putra dari Abdul Kadir Kaelani. Abdul Kadir Kaelani adalah putra dari Amir Abdullah Khanudin, keturunan Nabi Muhammad SAW generasi ke tujuh belas dari jalur Zaenal Abidin.

Syekh Datuk Kahfi memiliki dua orang adik, yaitu Syekh Bayanullah yang mempunyai pondok di Mekah, yang kemudian mengikuti jejak kakaknya berdakwah di wilayah Cirebon; serta seorang adik wanita yang menikah dengan Raja Upih Malaka. Buah dari perkawinan tersebut lahirlah seorang putri  yang kelak  menikah dengan Dipati Unus dari Demak.


Syekh Nurjati Menuntut Ilmu dan Pergi Haji ke Mekah

Sehubungan dengan lamanya Syekh Nurjati bermukim di Mekah, maka sebagian naskah menyatakan bahwa Syekh Nurjati berasal dari Mekah.

Syekh Nurjati Pergi ke Bagdad dan Menemukan Jodohnya dengan Syarifah Halimah

Setelah menuntut ilmu di Mekah, Syekh Nurjati mencoba mengamalkan ilmu yang diperoleh dengan mengajarkannya di wilayah Bagdad. Di Bagdad Syekh Nurjati menikah dengan Syarifah Halimah, putri dari Ali Nurul Alim.  Ali Nurul Alim putra dari Jamaludin al Husain dari Kamboja, yang merupakan putra dari Ahmad Shah Jalaludin, putra Amir Abdullah Khanudin. Jadi, Syekh Nurjati menikah dengan saudara secicit.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak, yakni Syekh Abdurakhman (yang kelak di Cirebon bergelar Pangeran Panjunan), Syekh Abdurakhim (kelak bergelar Pangeran Kejaksan),  Fatimah (yang bergelar Syarifah Bagdad), dan Syekh Datul Khafid (kadang-kadang disebut juga sebagai Syekh Datul Kahfi, sehingga membuat rancu dengan sosok ayahnya yaitu Syekh Datuk Kahfi, atau Syekh Nurjati di beberapa manuskrip yang lebih muda umurnya, contohnya Babad Cirebon Keraton Kasepuhan). Keempat anak tersebut dijamin nafkahnya oleh kakak Syarifah Halimah, Syarif Sulaiman yang menjadi raja di Bagdad (1). Syarif Sulaiman menjadi raja di Bagdad karena menikahi putri mahkota raja Bagdad.

Syekh Nurjati hidup pada abad pertengahan, antara abad 14-15 dan pernah bermukim di Bagdad (sekarang Bagdad merupakan ibukota Irak). Kondisi sosial ekonomi Bagdad pada rentang abad 14-15 sedang mengalami keemasan. Para filosof muslim mencapai puncak kejayaannya pada masa itu. Kondisi tersebut sangat memungkinkan ikut membentuk keluasan pikir Syekh Nurjati. Hal ini membantu kelancaran dakwahnya (2) .

Di Bagdad Syekh Nurjati hidup dan berumah tangga dan dikaruniai empat orang putra-putri. Kemudian Syekh Nurjadi diutus oleh Raja Bagdad untuk berdakwah di tanah Jawa serta menuruti suara hati nuraninya. Seraya memohon petunjuk kepada Allah SWT, Syekh Nurjati bersama istrinya, Syarifah Halimah pergi berkelana untuk berdakwah meninggalkan keempat anaknya yang masih kecil-kecil. Dalam perjalanannya, sampailah Syekh Nurjati  di Pelabuhan Muara Jati dengan penguasa pelabuhan/ syahbandarnya bernama Ki Gedeng Tapa/ Ki Ageng Jumajan Jati. Sesampainya mereka di Pelabuhan Muara Jati, Syarifah Halimah berganti nama menjadi Nyi Ratna Jatiningsih/ Nyi Rara Api.

Syekh Nurjati Pergi Berdakwah ke Pesambangan

Perkampungan yang dekat dengan pelabuhan Muara Jati disebut Pesambangan. Diceritakan dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, dalam Sejarah Banten, juga dalam Naskah Mertasinga, bahwa Syekh Nurjati/Syekh Idofi Mahdi/ Syekh Datuk Kahfi, mendarat di Muara Jati  setelah pendaratan Syekh Quro dan rombongan. Syekh Nurjati bersama rombongan dari Bagdad sebanyak sepuluh orang pria dan dua orang perempuan tiba di Muara Jati. Rombongan ini diterima oleh Penguasa Pelabuhan Muara Jati, Ki Gedeng Tapa/Ki Mangkubumi Jumajan Jati sekitar tahun 1420 M. Syekh Nurjati mendapatkan ijin dari Ki Gedeng Tapa untuk bermukim di daerah Pesambangan(3), di sebuah bukit kecil yang bernama Giri Amparan Jati.

Di tempat baru tersebut, Syekh Nurjati giat berdakwah sebagai dai’ mengajak masyarakat untuk  mengenal dan memeluk agama Islam.    Setelah mendengar tentang agama baru itu, orang-orang berdatangan dan menyatakan diri masuk Islam dengan tulus ikhlas. Semakin hari semakin banyak orang yang menjadi pengikut Syekh Nurjati(4).

Dalam interaksinya dengan masyarakat sekitar, akhirnya Syekh Nurjati menikah dengan Hadijah. Hadijah adalah cucu Haji Purwa Galuh (Raden Bratalegawa, orang pertama yang pergi berhaji dari Jawa Barat, yang saat itu masih bernama Kerajaan Galuh), janda dari seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Hadramaut.  Dengan pria tersebut Hadijah tidak dikaruniai putra, namun setelah pria tersebut meninggal dunia, Hadijah memperoleh seluruh harta warisan dari suaminya. Setelah suaminya meninggal dunia, Hadijah bersama kedua orang tuanya pulang ke Kerajaan Galuh dan menetap di Dukuh Pesambangan. Harta warisan tersebut digunakan Hadijah bersama suami barunya, yaitu Syekh Nurjati untuk membangun sebuah pondok pesantren yang bernama Pesambangan Jati.

Pernikahan Syekh Nurjati dengan Hadijah  dikaruniai seorang putri yang  bernama Nyi Ageng Muara, yang kelak menikah dengan Ki Gede Krangkeng. Krangkeng sekarang merupakan nama sebuah kecamatan di Kabupaten Indramayu.

Pondok Pesantren Pesambangan Jati  adalah pondok pesantran tertua di wilayah Cirebon (saat itu masih bernama Nagari Singapura) dan pondok pesantren tertua kedua se-Jawa Barat (saat itu masih bernama Kerajaan Galuh), setelah Pondok Pesantren Quro di Karawang, yang didirikan oleh Syekh Quro (Syekh Hasanudin/ Syekh Mursahadatillah). Syekh Quro adalah saudara sepupu Syarifah Halimah. Syekh Quro adalah putra  dari Dyah Kirana dengan Syekh Yusuf Sidik  (Wali Malaka). Sedangkan Dyah Kirana adalah putri Imam Jamaludin al Husain dari Kamboja (kakek Syarifah Halimah). 

Keterkaitan Syekh Quro dengan Syekh Nurjati dan Perkembangan Dakwah di Giri  Amparan Jati

Syekh Quro merupakan utusan Raja Campa. Secara geneologis, Syekh Quro dan Syekh Nurjati adalah sama-sama saudara seketurunan dari Amir Abdullah Khanudin generasi keempat. Syekh Quro datang terlebih dahulu ke Amparan bersama rombongan dari angkatan laut Cina dari Dinasti Ming yang ketiga dengan Kaisarnya, Yung Lo (Kaisar Cheng-tu). Armada angkatan laut tersebut dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Tay Kam. Mereka mendarat di Muara Jati pada tahun 1416 M. Mereka semua telah masuk Islam. Armada tersebut hendak melakukan perjalanan melawat ke Majapahit dalam rangka menjalin persahabatan. Ketika armada tersebut sampai di Pura Karawang, Syekh Quro (Syekh Hasanudin) beserta pengiringnya turun. Syekh Quro pada akhirnya tinggal dan menyebarkan ajaran agama Islam di Karawang. Kedua tokoh ini dipandang sebagai tokoh yang mengajarkan Islam secara formal yang pertama kali di Jawa Barat. Syekh Quro di Karawang dan Syekh Nurjati di Cirebon (5).

Gerakan dakwah mereka berdua dapat terjalin secara harmonis dan berjalan saling bantu membantu. Syekh Quro mengirimkan orang kepercayaannya yang bergelar Penghulu Karawang, ke Dukuh Pesambangan, terbukti dengan adanya  nisan makam Penghulu Karawang di Amparan Jati.

Keharmonisan dakwah antara Cirebon dan Karawang berlanjut dengan :

  1. Cucu Syekh Ahmad dari Nyi Mas Kedaton, bernama Musanudin. Kelak Musanudin menjadi lebai di Cirebon, memimpin Masjid Agung Sang Cipta Rasa pada masa pemerintahan Susuhunan Jati (Sunan Gunung Jati). Sedang Syekh Ahmad merupakan anak dari Syekh Quro dengan Ratna Sondari, putri Ki Gedeng Karawang.
  2. Puteri Karawang memberikan sumbangan hartanya untuk mendirikan sebuah masjid di Gunung Sembung (Nur Giri Cipta Rengga) yang bernama Masjid Dog Jumeneng/ Masjid Sang Saka Ratu, yang sampai sekarang masih digunakan dan terawat baik.
  3. Pengangkatan juru kunci di situs makam Syekh Quro dikuatkan oleh pihak Keraton Kanoman Cirebon.

Diceritakan pada suatu waktu, Raden Pamanah Rasa (kelak menjadi Sri Baduga Maharaja, Raja Pajajaran, yang terkenal dengan sebutan Prabu Siliwangi) mengadakan perjalanan ke Pondok Pesantren Quro, Pulo Klapa, Telagasari, Karawang, yang dipimpin oleh Syekh Quro ( Syekh Mursahadatillah). Dalam pelawatan tersebut Raden Pamanah Rasa jatuh cinta  kepada Puteri Subang Keranjang (Subang Larang), santriwati pesantren Syekh Quro, putri Ki Gedeng Tapa dari Singapura. Singapura adalah sebuah negara bagian dari Kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Prabu Niskala Wastu Kancana. Raden Pamanah Rasa melamar sang puteri dan puteri Subang Karancang bersedia dinikahi dengan syarat Raden Pamanah Rasa masuk Islam dan diperkenankan mendidik keturunannya dengan ajaran Islam.

Dari perkawinan Raden Pamanah Rasa dengan Puteri Subang Keranjang lahirlah tiga orang putra yaitu Pangeran Walangsungsang, Nyi Mas Ratu Mas Rarasantang, dan Pangeran Raja Sengara/ Kean Santang.

Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang Datang ke Amparan Jati

Di kampung Pesambangan, Syekh Nurjati melakukan dakwah Islam. Karena menggunakan cara yang bijaksana dan penuh khidmat dalam mengajarkan agama Islam, maka dalam waktu relatif singkat pengikutnya semakin banyak, hingga akhirnya pengguron kedatangan Pangeran Walangsungsang beserta istrinya Nyi Indang Geulis/ Endang Ayu dan adiknya, Nyi Mas Ratu Rarasantang yang bermaksud ingin mempelajari agama Islam (6).

Mereka adalah cucu dari syahbandar pelabuhan Muara Jati dari jalur ibunya. Kedatangan mereka ke Gunung Jati di samping melaksanakan perintah ibundanya sebelum meninggal, juga bermaksud sungkem kepada eyangnya Ki Gedeng Tapa. Kepergian mereka ke Pangguron Gunung Jati tanpa seizin ayah mereka, Prabu Siliwangi (7). Karena Prabu Siliwangi kembali memeluk agama Budha setelah Nyi Subang Larang meninggal dunia. Tetapi kedua putra-putrinya itu sudah dididik dan diberi petunjuk oleh almarhum ibunya agar memperdalam agama Islam di Pangguron Gunung Jati. Akhirnya mereka pun menuntut ilmu dan memperdalam agama Islam, menjadi santri Syekh Nurjati di Pesambangan Jati. Pada saat mereka bertiga diterima menjadi santri baru, Syekh Nurjati berdoa,  “ Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami orang-orang yang menghidupkan agama Islam mulai hari ini hingga hari kemudian dengan selamat. Amin.”

Di antara murid-muridnya, murid yang tercatat sangat cerdas adalah Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang. Walaupun keduanya telah menjadi muslim sejak kecil, dan belajar ke Syekh Quro, tetapi ketika datang ke pesantren Syekh Nurjati keduanya dan Nyi Indang Geulis (istri Pangeran Walangsungsang), tetap diminta kembali mengucapkan kedua kalimah syahadat. Syekh Nurjati memberi pelajaran kepada mereka mulai dari yang sangat dasar (rukun Islam), tentang pelajaran tauhid sebagai dasar pondasi keimanan. Mengapa Syekh Nurjati melakukan metode pengajaran seperti kepada orang yang baru mengenal ajaran dasar Islam? Menururt Besta Basuki Kertawibawa, kemungkinan ada keraguan pada Syekh Nurjati terhadap kadar keimanan dan pengetahuan ketiganya tentang agama Islam. Hal ini dikarenakan Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rara Santang adalah putra-putri dari Raja Pajajaran yang beragama Hindu-Budha. Selain itu, pengalaman mereka tentang agama Islam masih dalam tahapan pemula (8). 

Dalam naskan lainnya diterangkan, Syekh Nurjati mengajarkan membaca syahadat dengan arti dan maksud secara mendalam(9). Selain itu ada sebuah pesan yang berbunyi:

“Apabila engkau berhajat akan menghadapi seorang kikir, atau orang yang congkak, atau orang yang mempunyai utang yang dikhawatirkan akan berbuat jahat, bacalah sebuah doa yang artinya:

Wahai Tuhan, Engkau yang Maha Mulia dan Maha Besar dan saya adalah hamba-Mu yang rendah dan lemah yang tidak berkekuatan apa-apa melainkan dengan pertolongan-Mu. Wahai Tuhan tundukkanlah kepada saya (si fulan) seperti engkau menundukkan Firaun terhadap Nabi Musa as. Lunakkanlah hatinya seperti engkau telah melunakkan besi terhadap Nabi Daud as. Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu melainkan dengan seizin-Mu. Nyawanya ada dalam genggaman-Mu. Syekh Nurjati memberi wejangan tentang agama Islam yang diawali oleh firman Allah yang berbunyi:  Yaa ayyuhalladzina aamanu udkhulu fissilmi kaffah (hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam agama Islam secara keseluruhan). Kemudian, ia menjelaskan kandungan pokok ajaran Islam, yakni salat lima waktu, zakat, shaum (puasa), ibadah haji, umrah, perang sabil, ajakan ke arah kebajikan, serta menolak kemunkaran. Selain itu, ia memberikan berbagai macam ilmu, antara lain, ilmu ushuluddin (pokok-pokok agama), ilmu fiqih (aturan hukum keagamaan), dan ilmu tasawuf (penyucian diri)” (10).

Ajaran Perang Sabil dari Syekh Nurjati, dilaksanakan oleh Pangeran Walangsungsang dalam banyak pertempuran sampai tahun terakhir menjelang kewafatannya.

Wejangan lain Syekh Nurjati adalah tentang agama Islam dan makna yang terkandung dalam azimat yang telah diperoleh Walangsungsang. Ringkasan ceritanya sebagai berikut:    

Setelah ajaran tentang keimanan diberikan, maka pelajaran secara bertahap terus diberikan. Misalnya pelajaran ilmu fikih sebagai sarana untuk melaksanakan syariat agama Islam. Pelajaran ini mesih dalam taraf yang mendasar sebelum ajaran tentang tarikat, hakikat, dan makrifat. Syekh Nurjati adalah seorang ulama yang menganut mazhab fikiih Imam Syafi’i ( Mazhab Syafi’i). Menurut Rama Guru Pangeran Nurbuat,(11)  tarekat Syattariah masuk ke wilayah Cirebon dibawa oleh Syekh Nurjati.

Dari pertemuan dengan Syekh Nurjati, Pangeran Walangsungsang, istri, dan adiknya mendapat anugrah ilmu yang sangat tinggi. Nama Gunung Jati muncul karena cerita pertemuan Walangsungsang dengan Syekh Nurjati di Gunung Jati. Di hadapan Syekh Nurjati, Pangeran Walangsungsang, Nyi Mas Ratu Rarasantang, dan Indang Ayu dengan khusuk menekuni wejangan-wejangan yang diterimanya, yakni tentang dua kalimah syahadat, salawat dan dzikir, zakat fitrah dan munggah (ibadah) haji, puasa dibulan Ramadhan, salat lima waktu, dan membaca al Qur’an, kitab fikih dan tasawuf. Inilah di antara ajaran yang diterima dari Syekh Nurjati (12).

Sebelum menjadi santri Syekh Nurjati, Pangeran Walangsungsang, Nyi Mas Ratu Rarasantang, adiknya, serta Nyi Indang Geulis  (istrinya) telah terlebih dahulu berguru kepada para pendeta Budha di beberapa tempat, yang berarti mempelajari ilmu-ilmu di luar ilmu-ilmu Islam.

Setelah tiga tahun menuntut ilmu, Pangeran Walangsungsang diberi nama Somadullah oleh Syekh Nurjati. Pada saat memberikan nama Somadullah, Syekh Nurjati memberi nasehat berupa reinterpretasi ajaran-ajaran non-Islam dari para guru Pangeran Walangsungsang sebelumnya, menurut sudut pandang Islam. Hal ini terungkap pada saat Syekh Nurjati memberikan wejangan kepada ketiga orang tersebut, yaitu sebagai berikut :

“Hai Somadullah, sesungguhnya engkau memperoleh rahmat Islam itu memang sudah kepastian sejak zaman azali, dan engkau disuruh datang ke Gunung Merapi dan bertemu dengan Sang Hyang Danuwarsih itu mengandung hikmat yang penting ialah bahwa engkau akan bertemu dengan alim ulama yang menjadi warisan ambiya.  Dalam pertemuan dengan Sang Hyang Danuwarsih, engkau berhasil menerima pusaka berupa Cincin Ampal yang kepentingannya ialah untuk mengetahui perkara gaib dan dapat digunakan untuk “merawat” sesuatu dengan keadaan selamat. Nama ampal itu diambil dari perkataan fa’ti bi maa anfaan naasa, artinya : usahakanlah apa yang sekiranya membawa manfaat bagi manusia. Dan engkau menerima Baju Kamemayan yang antara lain kepentingannya ialah agar engkau disegani dan disayang oleh segenap makhluk. Itu memang betul karena pada baju tersebut ada tulisan yang artinya begini, ‘barang-siapa yang takut kepada Allah, Allah akan memberinya jalan keluar dari kesempitan hidupnya dan memberi rejeki dengan tak diduga-duga dan tanpa susah payah. Kalau engkau ingin jangan dibenci orang, pegang teguhlah  ayat tersebut untuk pedoman dalam langkah hidupmu, dan engkau menerima lagi Baju Pengabaran yang antara lain kepentingannya engkau tidak mempunyai rasa takut menghadapi musuh yang  bagaimanapun banyaknya, karena pada baju tersebut ada tulisan yang artinya : “Dan berbaktilah kepada Tuhanmu hingga saat ajalmu datang”. Sedangkan, orang yang berpegang pada ayat tersebut dengan keyakinan yang teguh, ia akan mempunyai keteguhan hati dalam menghadapi musuh yang bagaimana pun. Lalu engkau menerima pula Baju Pengasihan yang gunanya agar semua mahluk, baik jin maupun setan siluman apa saja tunduk kepadamu. Itu betul, jika engkau ingin ditakuti oleh semua mahluk, amalkanlah ayat tersebut.

Selain dari Sang Hyang Danuwarsih, engkau mendapat pula beberapa pusaka dari Sang Hyang Naga berupa azimat Ilmu Kadewa. Namanya itu diambil dari perkataan Dawaa ud diini, artinya, obatnya agama ; dalam hal ini dimaksud bahwa orang yang beragama itu harus berilmu. Ada syair Arab yang artinya, “ Barang-siapa yang berbuat sesuatu tidak didasarkan ilmu, amal perbuatannya itu tidak akan diterima oleh Allah”.  Sedikit keterangan bahwa orang yang memegang agama itu sama dengan orang yang memegang negara. Apabila ia dapat memegang agama, ia akan dapat memegang negara, tetapi tidak sebaliknya orang yang dapat memegang negara,  belum tentu ia akan dapat memegang agama.

Selanjutnya Syekh Nurjati berkata kepada Somadullah, “Engkau menerima pula dari Sang Hyang Naga berupa Ilmu Kapilisan, yang diambil dari perkataan falaysa lil insaani nisyaanudz dzikri,  yang artinya tidak patut bagi seorang manusia melupakan dzikir kepada Allah SWT Makna lebih lanjut dari Ilmu Kapilisan adalah kirang mimang ing batuk ingsun sari sedana ing lambe ingsun amanat pengucapan ingsun iku wong sekabeh tua gede cilik pada welas pada asih kabeh maring ingsun kelawan berkahe kalimat llaa ilaha illallahu muhammadur rosulullahi. Doa ini hendaknya dibaca dengan tekad yang bulat turut pada ketika membaca kalimat toyyibah, hendaknya seluruh jiwa raga dihadapkan kepada Allah dan setelah doa itu selesai dibaca lalu diusapkan ke dahi.  Selain itu,  engkau diberi juga Ilmu Keteguhan, diambil dari perkataan falainsa lil gonisi bakhilun, artinya tidak patut pagi seorang kaya untuk berlaku kikir. Lalu, engkau diberi pula golok cabang yang ia dapat berbicara dan dapat terbang. Dapat mengalahkan kekuatan singa, dapat menghancurkan gunung yang gagah perkasa, dan dapat pula mengeringkan air laut yang sedang meluap-luap. Nama golok cabang itu berasal dari perkataan khuliqo lisab’ati asyyaa-a”, artinya dijadikan untuk tujuh perkara.  Maksudnya jika engkau menghendaki mendapatkan apa yang engkau kehendaki, engkau harus menghadapi ketetapan anggota badan yang tujuh, ialah anggota sujud.  Jelasnya, jika engkau ingin  mencapai segala sesuatu, hendaknya engkau tunduk sujud kepada Allah.

Selanjutnya engkau sampai di Gunung Kumbang dan bertemu dengan Sang Hyang Naga, kemudian engkau diberinya macam-macam azimat .....diikuti tutur katanya. Kemudian engkau diberi azimat Ilmu Kesakten guna keselamatan agar tutur katamu dituruti. Kemudian engkau diberinya lagi azimat Limunan untuk dapat bersembunyi di dalam terang, artinya jangan mempunyai perasaan benar sendiri. Kemudian engkau diberi azimat yang diberi mana Aji Titi Murti, berasal dari kata fa’ti bi maa umirta; kerjakanlah olehmu segala perintah yang baik-baik,  agar dapat mengusahakan segala sesuatu yang rumit-rumit dan sesuatu yang sukar-sukar menjadi mudah. Kemudian, engkau diberi lagi azimat Aji Dwipa guna mengetahui dan memahami segala pembicaraan, seperti gunanya  topong itu dipakai, maka engkau tidak akan dilihat manusia lagi. Kemudian engkau menerima pula Baju Pusaka Waring yang dapat digunakan untuk terbang, dan engkau menerima pusaka berupa Umbul-umbul Waring yang antara lain kepentingannya agar selamat rahayu dari senjata musuh dan dapat melemahkan tenaga-tenaga musuh. Artinya, bila tidak ingin kelihatan segala rahasia dan keburukan oleh orang lain harus mengikuti ucapan : ud’u lillahi ala jami’annasi bittaqwa; ajaklah semua manusia untuk melakukan taqwa kepada Allah. Baju Pusaka Waring bertuliskan qolbul khosi’i mabruuurun; artinya hati seorang yang khusyu’ dapat diterima oleh Tuhan. Umbul-umbul Waring memiliki tulisan : ‘Hai manusia, carilah harta benda dengan cara yang sebaik-baiknya, jangan asal memperoleh saja.  Azimat Panjang dari Ratu Bangau artinya dalam menyebarkan agama Islam akan dibantu oleh para wali; Pendil petunjuk kearah agama yang hak dan Bareng artinya dalam segala aktivitas harus mengikuti tiga perkara : syariat, tarekat, dan makrifat (13).”

Syekh Nurjati bukan saja memberi bekal kehidupan dan hidup sesudah mati pada Pangeran Walangsungsang, adik dan istrinya, tetapi ia mampu mengubah kepribadian sang anak raja tersebut menjadi seorang pahlawan yang tidak hanya suka hidup dalam kemewahan sebagai putra raja, tetapi menjadi sosok pribadi pejuang yang saleh dan tangguh. Syekh Nurjati merasa Pangeran Walasungsang bersama adiknya Nyi Mas Ratu Rarasantang dan istrinya, Nyi Indang Geulis, telah berguru di pengguron Islam Gunung Jati telah memiliki keteguhan iman.  Setelah memberi nasehat, Syekh Nurjati memerintahkan Pangeran Walangsungsang, Nyi Mas Ratu Rarasantang dan Nyi Endang Ayu untuk membuka perkampungan baru di selatan Gunung Jati untuk penyiaran agama Islam.

Syekh Nurjati Memerintahkan Pangeran Walangsungsang Membuka Perkampungan

Setelah menerima wejangan dari Syekh Nurjati dan seizin kakeknya (Ki Gedeng Tapa), Somadullah memilih kawasan hutan di kebon pesisir, di sebelah selatan Gunung Jati, yang disebut Tegal Alang-alang atau Lemah Wungkuk. Di kawasan tersebut ternyata telah bermukim Ki Danusela, adik Ki  Danuwarsih (mertua Somadullah).

 Setibanya di tempat yang dituju, mereka bertemu dengan seorang lelaki tua bernama Ki Pengalangalang dan mengucapkan kalimat: Lamma waqo’tu; ketika saya telah tiba. Ucapan Pangeran Walangsungsang tersebut kemudian menjadi nama Lemah Wungkuk.  Ki Pengalangalang menyambut mereka dan mengakui ketiga orang yang datang tersebut anaknya.

Keesokan harinya, setelah salat Subuh, Pangeran Walangsungsang alias Somadullah mulai bekerja membabat hutan hingga ke pedalaman yang dipenuhi binatang buas. Untuk memperoleh keselamatan, Somadullah mengucapkan kalimat: fa anjayna; artinya, aku telah selamat. Karena itu, tempat yang dibabatnya kemudian bernama Panjunan asal kata dari fa-anjayna. Demikian pula tempat-tempat lain dinamai berdasarkan hal-hal yang dialami oleh Pangeran Walangsungsang; antara lain, pekerjaan membabat hutan diteruskan hingga ke tempat yang tidak diketahui lagi. Setelah berdoa kemudian tampak ada jalan, ia berucap: fasyamula; artinya, maka mengetahuilah. Dari ucapan ini lahirlah tempat yang bernama Pasayangan; ketika di suatu tempat ia berfikir kemudian mengucapkan; fakkarnaa; artinya, aku berpikir, tempatnya disebut Pekarungan yang berasal dari kata fakkarnaa. Ketika tiba di suatu tempat yang menyenangkan, ia berucap fa amma sirri jamarin samarin, sesungguhnya perasaanku merasa senang karenanya tempat tersebut dinamakan Gunung Sari dan Dukuh Semar. Di suatu tempat yang apabila sudah menjadi perkampungan mudah memperoleh rizki, ia mengucapkan doa farjanaa, artinya, Ya Allah berilah rizki pada hamba, sehingga tempat tersebut dinamakan Parujakan. Di suatu tempat ketika ia tidak ingat apa-apa, ia berucap: fakholanaa, artinya, aku lupa, tempat tersebut kemudian disebut Pekalangan. Ketika ia mendapat petunjuk, ia berucap: fahandaasna (faha-dayna), aku mendapat petunjuk, menjadi tempat bernama Pandesan. Ketika di suatu tempat ia merasa senang, ia berucap: rokibuna rumata illaihi farihin, yang kemudian menjadi tempat bernama Kebon Pring. Ketika ia melihat dua tanda dari dua Kanoman dan Kasepuhan, ia berucap: farutu aajataini, artinya aku melihat dua tanda sehingga tempatnya tersebut Anjatan. Ketika di suatu tempat ia melihat ada musuh di depannya, ia berkata: falaa sasaraynaa; artinya, aku tidak terus berjalan sehingga tempat tersebut dinamakan Pulasaren dan di dekatnya dinamakan Jagasatru, musuh yang berjaga-jaga (14).

Pada tanggal 14 bagian terang bulan Carita tahun 1367 Saka atau Kamis tanggal 8 April tahun 1445 Masehi, bertepatan dengan masuknya penanggalan 1 Muharam 848 Hijriyah, Pangeran Walangsungsang alias Somadullah dibantu 52 orang penduduk, membuka perkampungan baru di hutan pantai kebon pesisir (15).

Dengan semangat tinggi dan ketekunannya, Pangeran Walasungsang dapat menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai pembuatan pendukuhan yang semula Tegal Alang-Alang atau Kebon Pesisir diberi nama Caruban Larang dengan kuwu pertama adalah Ki Danusela. Sedangkan Ki Somadullah menjadi pangraksabumi yang bertugas memelihara tanah pemukiman dengan julukan Ki Cakrabumi.

Somadullah/ Ki Cakrabumi adalah pada siang hari bekerja membabat hutan dan pada malam hari bekerja mencari ikan di tepi laut, sementara istri dan adiknya bekerja menumbuk rebon (udang kecil) untuk dibuat terasi. Perkampungan yang dibangun Somadullah berkembang menjadi perkampungan besar yang disebut Grage, yang berarti negara gede.

Perkampungan Somadullah dan usahanya membuat terasi diketahui oleh Raja Galuh. Ia mengutus patihnya untuk menyelidiki perkampungan di pesisir pantai yang ada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh. Apabila rakyatnya telah mencapi 69 orang, perkampungan tersebut telah menjadi sebuah desa dan diharuskan membayar pajak setiap tahun serta mempersembahkan tumbukan rebon halus sewakul (sekitar 45 kilogram). Dalam pertemuan antara utusan Raja Galuh dan Somadullah dibicarakan status perkampungan baru yang ternyata telah dihuni oleh 70 orang penduduk sehingga perlu dibentuk satu desa di bawah pimpinan seorang kuwu (kepala desa). Desa tersebut kemudian dipimpin oleh Ki Pangalangalang sebagai kuwu karena Cakrabumi tidak bersedia menjadi kuwu. Selesai upacara pengukuhan kuwu, diadakan perjamuan. Rombongan Kerajaan Galuh menikmati garagal (tumbukan) rebon beserta air rebon. Utusan kerajaan Galuh sangat menikmati air rebon yang dalam bahasa sunda disebut Cairebon, dari kata cai dan rebon (16). Ketika Ki Pangalangalang meninggal, ia diperlakukan secara Islam oleh Ki Cakrabumi. Perlakuan jenazah secara Islam ini merupakan awal dari penyebaran ajaran Islam kepada penduduk Cirebon. Sejak itu, setiap malam diadakan pengajian oleh Ki Cakrabumi. Sepeninggal Ki Pangalangalang, datanglah utusan karajaan Galuh untuk mengganti kedudukan Ki Pangalangalang sebagai kuwu Cirebon. Melalui kesepakatan, akhirnya Ki Cakrabumi terpilih sebagai Kuwu Cirebon menggantikan Ki Pangalangalang dan mendapat gelar Cakrabuana memerintah 457 orang penduduk desa Cirebon.

Pangeran Walangsungsang ketika membuka pedukuhan juga mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Masjid Pejelagrahan (asal kata dari jala-graha yang artinya rumah di atas laut). Sekarang letak masjid tersebut sekarang berada tepat di sebelah luar dinding Keraton Kasepuhan, di Kelurahan Kasepuhan, Kota Cirebon.

Seusai membangun pedukuhan, Syekh Nurjati menemui Pangeran Walangsungsang di Kebon Pesisir, kemudian menyarankan Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang untuk pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan disarankan terlebih dahulu menemui Syekh Ibrahim di Campa. Keduanya menuruti nasehat Syekh Nurjati dan berhasil menemui Syekh Ibrahim di Campa.

Di Campa Pangeran Walangsungsang  dan Nyi Mas Ratu Rarasantang menerima wejangan dari Syekh Ibrahim, selanjutnya Syekh Ibrohim  menyuruh keduanya untuk melanjutkan perjalanan ke Mekah. Selama di Mekah, keduanya tinggal di pondok Syekh Bayanullah, adik Syekh Nurjati dan berguru kepada Syekh Abuyazid (17) .

Setelah berhaji, Nyi Mas Ratu Rarasantang bergelar Nyi Haji Syarifah Mudaim dan Pangeran Walangsungsang bergelar Haji Abdullah Iman. Akhirnya Nyi Mas Ratu Rarasantang dipersunting oleh Raja Mesir, Maulana Sultan Mahmud/Syarif Abdullah.

Tak lama kemudian, pernikahan antara Syarifah Mudaim dan Syarif Abdullah dilangsungkan di kerajaan Bani Israil yang disaksikan oleh Haji Abdullah Iman dan alim-ulama beserta pembesar kerajaan (18). Syarifah Mudaim berharap dapat melahirkan anak yang bisa mengislamkan tanah Jawa. Hasil pernikahan Nyi Rara Santang ini lahirlah Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Syarif Nurullah meneruskan memimpin kerajaan ayahandanya, sementara Syarif Hidayatullah berniat mensyiarkan Islam di tanah Jawa.

Syekh Bayanullah (Adik Syekh Nurjati) Mendirikan Pondok Pesantren Quro di Kuningan

Syekh Bayanullah tiba di Cirebon bersama Syekh Bentong (putra Syekh Quro Karawang) setelah menunaikan ibadah haji. Syekh Bayanullah mendirikan Pondok Pesantren Quro di Desa Sidapurna, Kuningan, setelah menikah dengan  Nyi Wandasari, putri Surayana, penguasa Sidapurna. Surayana adalah putra Prabu Niskala Watu Kancana dari istri ketiganya. Dari perkawinan itu lahirlah Maulana Arifin. Maulana Arifin kelak berjodoh dengan Ratu Selawati, Penguasa Kuningan. Ratu Selawati adalah adik Jayaraksa (Ki Gedeng Luragung) serta kakak
Bratawijaya (Arya Kemuning). Mereka adalah cucu Sri Baduga Maharaja yang kelak di-Islamkan oleh uwaknya Pangeran Walangsungsang (19).

Kedatangan Pangeran Panjunan

Bagian ini diselingi oleh cerita Sultan Sulaeman di Negeri Bagdad yang dilanda kegundahan karena anaknya yang bernama Syarif Abdurrahman dan adik-adiknya, Syarif Abdurrakhim, Syarifah Bagdad dan Syarif Khafid mempelajari Ilmu Tasawuf yang tidak disukai oleh  Sultan Sulaeman dan suka bermain rebana, yang kelak menjadi cikal bakal kesenian Brai di Cirebon. Akhirnya, Syarif Abdurrahman diusir dari kerajaan. Syarif Abdurrahman mengadukan pengusiran ayahnya kepada gurunya, Syekh Juned. Menurut Syekh Juned, tidak ada tempat lain yang harus dituju kecuali Cirebon, tempat yang tentram dan di masa yang akan datang akan diduduki oleh para wali.

Sementara itu Haji Abdullah Iman berniat kembali ke tanah Jawa. Dalam perjalanan kembali ke tanah Jawa, ia mengunjungi Syekh Ibrahim Akbar di Campa dan  dijodohkan dengan putrinya dan di bawa pulang ke Cirebon (18).  Kelak keduanya dikaruniai tujuh orang putri yang setelah dewasa bermukim di beberapa tempat menjadi sesepuh desa.

Haji Abdullah Iman membangun sebuah keraton di Cirebon yang diberi nama Keraton  Pakungwati yang diambil dari nama anaknya yang baru lahir buah perkawinannya dengan Nyi Indang Geulis. Setelah pembangunan keraton selesai, Haji Abdullah Iman diangkat oleh ayahnya, Prabu Siliwangi, menjadi Ratu Sri Mangana dan diberi payung kebesaran.

Syarif Abdurrakhman yang diusir ayahnya dari Bagdad melakukan perjalanan menuju Cirebon sesuai dengan saran gurunya, Syekh Juned. Ia ditemani oleh tiga orang adiknya dan 1.200 orang pengikutnya yang diangkut dengan empat buah kapal. Akhirnya mereka tiba di Caruban. Setibanya di Caruban, mereka langsung menghadap Pangeran Walangsungsang Cakrabuana dan minta izin untuk tinggal di Caruban. Kemudian diizinkan dan ditempatkan di daerah Panjunan dan Syarif Abdurrakhman  ini dikenal dengan sebutan Pangeran Panjunan (20).  Di tempat tersebut, Pangeran Panjunan bersama para wali mendirikan sebuah masjid, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Merah Panjunan.

Masjid Panjunan selain memiliki keunikan berwarna merah, juga memilki keunikan lain. Arsitektur pada gapura masjid tersebut asimetri dan memilki candrasengkala berupa srimpedan, yang juga dimiliki oleh Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Sedangkan Syarif Abdurrakhim bertempat tinggal di Kejaksan dan bergelar Pangeran Kejaksan serta membuat masjid di tempat tersebut.

Mereka bertemu ayahandanya, Syekh Nurjati di Gunung Jati. Syarif Khafid dan Syarifah Bagdad menetap di Gunung Jati (21).Syarifah Bagdad kelak menikah dengan Syarif Hidayatullah dan menjadi sekretaris pribadi dalam hal masalah keagamaan sehingga bergelar Nyi Mas Penatagama Pesambangan yang sangat alim dan berakhlak mulia, sehingga Sunan Gunung Jati sangat mencintainya dan putranya diangkat menjadi putra mahkota.  Namun kedua putranya baik Pangeran Jaya Kelana maupun Pangeran Brata Kelana, meninggal/ syahid dalam usia muda.

Wejangan Syekh Nurjati Kepada Syarif Hidayatullah dan Para Wali

Setelah berkelana menemui para wali di Jawa, Syarif Hidayatullah pada tahun 1475 (Ada naskah yang menyebut 1470) mendarat di Amparan Jati  dan menemui uwaknya (Pangeran Walangsungsang) yang pada saat itu menjadi Kuwu Cirebon. Uwaknya sangat gembira atas kedatangan keponakannya tersebut dan mendukung niatnya. Tetapi sebelumnya Pangeran Walangsungsang memberi nasihat agar sebelum melakukan syiar Islam, terlebih dahulu menemui Ki Guru, yakni Syekh Nurjati di Gunung Jati. Syarif Hidayat agar meminta nasihat dan petujuk, bagaimana dan apa yang harus dilakukan. Akhirnya, mereka berdua berangkat menuju Gunung Jati menemui Syekh Nurjati selama tiga hari tiga malam. Di tempat Syekh Nurjati mereka menerima wejangan-wejangan yang berharga. Antara lain, Syekh Nurjati berkata:

”Ketahuilah bahwa nanti di zaman akhir, banyak orang yang terkena penyakit. Tiada seorangpun yang dapat mengobati penyakit itu, kecuali dirinya sendiri karena penyakit itu terjadi akibat perbuatannya sendiri. Ia sembuh dari penyakit itu, kalau ia melepaskan perbuatannya itu. Dan ketahuilah bahwa nanti di akhir zaman, banyak orang yang kehilangan pangkat keturunannya, kehilangan harga diri, tidak mempunyai sifat malu, karena dalam cara mereka mencari penghidupan sehari-hari tidak baik dan kurang berhati-hati. Oleh karena itu sekarang engkau jangan tergesa-gesa mendatangi orang-orang yang beragama Budha. Baiklah engkau sekarang menemui Sunan Ampel di Surabaya terlebih dahulu dan mintalah fatwa dan petunjuk dari beliau untuk bekal usahamu itu. Ikutilah petunjuk beliau, karena pada saat ini di tanah Jawa baru ada dua orang tokoh dalam soal keislaman, ialah Sunan Ampel di Surabaya dan Syekh Quro di Karawang. Mereka berdua masing-masing menghadapi Ratu Budha, yakni Pajajaran Siliwangi dan Majapahit. Maka sudah sepatutnyalah sebelum engkau bertindak, datanglah kepada beliau terlebih dahulu. Begitulah adat kita orang Jawa harus saling menghargai, menghormati antara golongan tua dan muda. Selain itu, dalam usahamu nanti janganlah kamu meninggalkan dua macam sembahyang sunah, yaitu sunah duha dan sunah tahajud. Di samping itu, engkau tetap berpegang teguh pada empat perkara, yakni syare’at hakekat, tarekat, dan ma’rifat” (22).

Demikian wejangan dari Syekh Nurjati kepada Syarif Hidayatullah. Syekh Nurjati adalah tokoh utama penyebar agama Islam yang pertama di Cirebon. Tokoh yang lain adalah Maulana Magribi, Pangeran Makdum, Maulana Pangeran Panjunan, Maulana Pangeran Kejaksan, Maulana Syekh Bantah, Syekh Majagung, Maulana Syekh Lemah Abang, Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran Cakrabuana), dan Syarif Hidayatullah. Pada suatu ketika mereka berkumpul di Pasanggrahan Amparan Jati, di bawah pimpinan Syekh Nurjati. Mereka semua
murid-murid Syekh Nurjati. Dalam sidang tersebut Syekh Nurjati berfatwa kepada murid-muridnya:

”Wahai murid-muridku, sesungguhnya masih ada suatu rencana yang sesegera mungkin kita laksanakan, ialah mewujudkan atau membentuk masyarakat Islamiyah. Bagaimanakah pendapat para murid semuanya dan bagaimana pula caranya kita membentuk masyarakat Islamiyah itu?” (23).

Para murid dalam anggota sidang mufakat atas rencana baik tersebut. Syarif Hidayatullah berpendapat bahwa untuk membentuk masyarakat Islam sebaiknya diadakan usaha memperbanyak tabligh di pelosok dengan cara yang baik dan teratur. Pendapat ini mendapat dukungan penuh dari sidang, dan disepakati segera dilaksanakan (24).  Sidang inilah yang menjadi dasar dibentuknya organisasi dakwah dewan Wali Songo.

Sebelum meninggal dunia, Syekh Nurjati berwasiat kepada anak bungsunya, Syekh Khafid, “Ana sira ana ingsun”, yang artinya ada kamu ada saya. Maksudnya adalah Syekh Nurjati berpesan bahwa Syekh Khafid adalah pengganati Syekh Nurjati apabila berhalangan. Wasiat inilah yang memperkuat anggapan bahwa seolah-olah Syekh Datuk Khafid adalah orang yang sama dengan Syekh Datul Kahfi (25). 

Beberapa saat kemudian Syarif Hidayatullah menggantikan Syekh Datuk Kahfi/Syekh Nurjati yang meninggal dunia (26).  Syarif Hidayatullah ketika menggantikan kedudukan sebagai guru dan da’i di Amparan Jati diberi julukan Syekh Maulana Jati, disingkat Syekh Jati.

Semasa hidupnya Syekh Nurjati senantiasa mengamanati setiap santri yang akan meninggalkan Pangguron, dengan perkataan ’’settana’’ artinya pegang teguhlah semua pelajaran yang diperoleh dari pengguron Islam Gunung Jati, jangan sampai lepas. Sejak saat itu orang menamakan Kampung Pesambangan dengan nama Settana Gunung Jati. Namun karena pada akhirnya Gunung Jati itu digunakan untuk pemakaman, terutama makam Syekh Nurjati sendiri, maka penduduk Jawa Barat yang sebagian besar  berbahasa Sunda, sebutan settana diganti menjadi astana yang artinya kuburan. Walaupun demikian, penduduk yang berbahasa Jawa Cirebon masih banyak yang menyebutnya settana. Dengan demikian Kampung Pesambangan yang mencakup Gunung Jati sampai sekarang dinamakan Kampung atau Desa Astana.

Sebagai bukti penghormatan umat Islam, yang berziarah ke Astana (baik ke komplek pemakaman Gunung Jati maupun komplek pemakaman Gunung
Mursahadatillah, dan secara khusus disampaikan kepada ruh pemimpin dan penghulu kami Syekh  Datul Kahfi, dan kepada ruh Syekh Bayanillah, dan kepada seluruh ruh para wali, sultan, ahli kubur yang disemanyamkan di Gunung Jati dan Gunung Sembung, dan orang tua mereka, para pendoa mereka, dan orang-orang yang mengambil pelajaran dari mereka, Yaa Allah ....tolonglah kami semua dengan perantaraan (izin Allah, akan kemuliaan mereka, aku memohon (hanya) kepada Engkau, (memohon) barokah, syafaat, karomah (kemuliaan), ijasah (kelulusan dan pengakuan), dan keselamatan, segala sesuatu hanya milik Allah, bagi mereka Fatihah.

Kalau kita simak doa tersebut, maka ada penghormatan terhadap :

  1. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
  2. Nyi Mas Ratu Rarasantang (Syarifah Mudaim, ibunda Sunan Gunung Jati, Pendiri Caruban
  3. Syarifah Bagdad/ Fatimah (Nyi Mas Penatagama Pesambangan, istri Sunan Gunung Jati, putri Syekh Nurjati)
  4. Pangeran Cakrabuana (paman Syarif Hidayatullah, pendiri Caruban)
  5. Syekh Quro/ Syekh Hasanudin (Syekh Mursahadatillah, pendiri Pondok Pesantren Karawang, Sahabat Syekh Nurjati )
  6. Syekh Nurjati (Syekh  Datul Kahfi, guru Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang dan mertua Sunan Gunung Jati)
  7. Syekh Bayanillah (adik Syekh Datul Kahfi, pendiri Pondok Pesantren di Kuningan)


Kita bisa mencermati bahwa doa tersebut diatas ditujukan kepada  sekelompok elit ulama perintis dakwah Islamiah di Cirebon.

Gapura Bersayap di Pintu Makam Syekh Nurjati

Syekh Nurjati meninggal dan dimakamkan di Gunung Jati. Sedangkan Syarif Hidayatullah meninggal di Gunung Jati sehingga disebut Sunan Gunung Jati, namun dimakamkan di Gunung Sembung, sebelah barat Gunung Jati.

Gapura bersayap di pintu makam Syekh Nurjati adalah sebagai penanda masuknya agama  Islam di Cirebon. Model gapura ini merupakan salah satu karya adi luhung orang Cirebon, pada awal abad ke 15-17 Masehi. Karya adi luhung ini merupakan karya dekoratif yang sebenarnya lumrah di pesisir pantai utara Jawa.

Pintu yang ada di gapura bersayap Syekh Nurjati ini dapat melambangkan kematian. Artinya maut adalah gerbang yang akan dilalui oleh setiap manusia (ruh) untuk mencapai kehidupan berikutnya yang abadi. Pemaknaan pintu sebagi lambang kematian merupakan gambaran yang sangat tepat dan sesui dengan peribahasa Arab yang berbunyi : “ al mautu babun wa kullunaasi dakhiluhu”, maut adalah pintu dan setiap orang akan memasukinya.

Jika pintu bermakna kematian, maka gapura bersayap bisa menjadi makna perlambang bagi Malaikat Izrail. Artinya, kematian bisa disebut kematian yang sesungguhnya jika ruh seseorang sudah dibawa malaikat Izrail dan menurut Al Quran bahwa para malaikat itu bersayap (27).

Sumur Jalatunda

Di Pesambangan terdapat dua sumur tua peninggalan Syekh Nurjati, yakni sumur Jalatunda dan sumur Tegangpati. Sumur diartikan sebagai kirata basa : seumur atau sepanjang kehidupan. ”Jala” dari bahasa Arab ”jalla” yang berarti luhur atau agung, ”tundha” artinya titipan, sedangkan ”tegangpati” berarti serah jiwa (28).

Sumber: Klik teng riki jeh...

Diposting HMJB 14 Maret 2013

04 Maret 2013

Carini - Topeng Menor

Carini alias Menor salah seorang dalang topeng asal Subang 
tengah menarikan topeng Pamindo bagian baksarai di tetaer terbuka Taman Budaya Jawa Barat 9 April 2011

Topeng Menor, bukanlah sebutan bagi suatu jenis kesenian. Sebutan itu sebenarnya hanya untuk menunjukkan seseorang sebagai penari topeng. Menor adalah nama lain bagi seorang yang bernama Carini. Ia adalah buah perkawinan dari Sutawijaya (ayah) dan Sani (ibu). Sutawijaya adalah dalang wayang kulit dan Sani dalang topeng.

Menor adalah julukan bagi Carini, seorang dalang topeng berdarah Cirebon yang tinggal di Dusun Babakan Bandung, Desa Jati, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang. Sebutan Menor diberikan karena ia adalah satu-satunya anak perempuan dari empat bersaudara keturunan Sutawijaya. Menor adalah nama kesayangan, karena semasa remajanya Carni itu memang menor, alias cantik atau genit. Ia adalah anak tertua dari empat bersaudara (Sunaryo, Supendi, dan Komar).

Sani ibunya, berasal dari daerah Kalisapu, Kanoman, Cirebon, sementara ayahnya Suta berasal dari daerah Pamayahan, Kabupaten Indramayu. Sutawijaya masih mempuyai pertalian saudara dengan Rasinah, seorang dalang topeng terkenal dari daerah Pekandangan Indramayu. Ia juga masih punya pertalian saudara dengan dalang-dalang wayang terkenal seperti Rusdi dan Tomo, dari daerah Celeng, Indramayu.

Topeng Cirebon yang berada di Cipunagara pada mulanya berasal dari dua daerah pusat persebaran topeng, yaitu Cirebon dan Indramayu. Menurut penuturan Carini (Menor), sekitar tahun 30-an Aki Resa diminta nopeng oleh Ama Patih dan Juragan Demang di Cimerta. Ia diberi imbalan rumah tempat tinggal di daerah Pagaden Subang. Pada waktu itu, Pangga (salah seorang anak Resa), yang juga dalang topeng, ikut pula. Sebagai pimpinan rombongan topeng, ia pun seringkali dipanggil untuk nopeng oleh Juragan Demang dengan mendapatkan imbalan rumah dan tanah di daerah Sindang Kasih. Kemudian mereka menetap di daerah tersebut.

Pangga mewariskan seni topeng kepada keturunannya: Winda, Talim, Aminah, Sutawijaya, dan Rudiah. Sekitar tahun 40-an, Pangga dan keluarga pindah ke Desa Jati karena jembatan Cigadung yang dekat dengan rumahnya akan dihancurkan oleh Belanda. Rumah dan tanah di Babakan Bandung, Desa Jati, yang kini ditempati itu, pada awalnya adalah pemberian Lebe Pahing-Desa Jati.

Lahir tahun 1955. Ia sekolah hanya sampai kelas 4 SD. Ketidaktamatan sekolahnya bukan karena tidak pandai. Ia memang sering tidak masuk sekolah, penyebabnya tak lain adalah karena terlalu sering manggung. Kalau tidak nopeng, ia menjadi pesinden dalam pertunjukan wayang kulit atau wayang golek.

Pertama kali belajar menari topeng kepada Ibu Dari dari Bogis-Indramayu saat masih berumur sekitar 10 tahun dengan bayaran setengah kuintal padi. Ia belajar menari topeng bersama-sama dengan Arni, putrinya Ibu Dari. Tarian yang pertama kali dipelajarinya adalah topeng Pamindo. Setelah tarian tersebut dikuasai, ia kemudian diajak bebarang (ngamen) oleh ibunya, keliling daerah Subang, seperti ke daerah Sirap, Tanjungsiang, Jalan Cagak, bahkan sampai ke daerah Bandung, (Cidamar) Cimindi. Bebarang dilakukannya sekitar tahun 1962. Selanjutnya, ia mulai mendapat panggungan saat masih berumur belasan tahun. Ia manggung di daerah Kihiang, Citra, Tumaritis, Sakurip, Cipicung, dan sebagainya.

Pada sekitar tahun tujuh puluh, saat sedang tenar-tenarnya menjadi dalang topeng, ia dilamar oleh seseorang. Oleh orang tuanya ia diperbolehkan menikah dengan syarat, bahwa laki-laki yang meminangnya harus sanggup menyediakan speaker sebagai mas kawinnya. Lelaki yang melamar itu berasal dari Salahaur, Kartomo namanya, kemudian ia menyanggupi permintaan calon mertuanya.  Menor pun menikah.

Pernikahan itu tak langgeng. Mereka kemudian bercerai pada tahun 1973. Namun, membran bermerek Toa itu masih ada sampai sekarang. Tahun 1974 Menor menikah lagi dengan seorang lelaki dari Desa Jati, Enen namanya. Akan tetapi pernikahan itu juga tidak berlangsung lama. Mereka bercerai pada tahun 1977. Pada tahun 1977 akhir, menikah lagi dengan seorang Wakil Kepala Desa Kawung Anten, Kana, dan bercerai lagi tahun 1992. Pada tahun 1994, Menor menikah lagi dengan Waspan, Wakil Dusun Sindang. Waspan suaminya, kini  menjadi staf desa di bagian LPMD (Lembaga Pembangunan Masyarakat Desa); Ketua Kelompok Tani; Juru Tulis bagian PBB; dan Bendahara Desa. Dari semua perkawinannya, Menor belum dikaruniai satu pun keturunan.

Menor, termasuk seniman serba bisa. Ia selain menjadi dalang topeng, juga menjadi pesinden wayang kulit dan juga wayang golek. Pernah belajar berbagai tarian Keurseus saat ia dibawa uanya Aminah ke daerah Tanjung Priok Jakarta. Aminah pada saat itu bersuamikan seorang polisi yang di asramanya ada kegiatan tari-menari. Karena itulah Menor pun bisa menari Keurseus, seperti tari Lenyepan, dan tari Gawil. Ia juga belajar Pencak Silat kepada Eyang Kuwu Cibogo.

Masa-masa bebarang dan panggungan adalah masa-masa belajar yang menghasilkan berbagai pengalaman menarik. Salah satu yang masih diingatnya ialah, saat orang tuanya tidak memberikan kesempatan untuk melaksanakan hajat buang air kecil. Menurut ayahnya, Sutawijaya, kepalang jika tarian dihentikan karena tengah ditonton orang banyak. Tentu saja Menor tak kuat menahan desakan untuk buang air kecil, sampai akhirnya ia ngompol (kencing tanpa membuka celana dalam) di tengah kalangan. Melihat keadaan itu, para penonton geger garena penarinya kencing di kalangan. Pada saat itulah ia mendapat julukan Dalang Ngompol dari masyarakat.

Saat ia belajar menari ia ditempa ayahnya dengan berbagai  perlakuan yang kadang-kadang terasa sangat menyusahkan bahkan menakutkan. Misalnya, ia sempat diikat di sebuah pohon buah sambil diasapi oleh pembakaran tikar. Puasa wedal, senin-kamis, niis, mutih, dan laku asketik lainnya ia lakukan dengan penuh kesabaran. Tujuannya tak lain hanya untuk supaya ia mempunyai kepercayaan diri sebagai seniman. Laku seperti tersebut memang adalah kebisaan yang umum di kalangan seniman, khususnya seniman topeng dan wayang kulit di Cirebon.

Penulis: Toto Amsar Suanda

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. “Ensiklopedi Seni Budaya Jawa Barat.” Bandung 2012.

02 Maret 2013

Unaryo: Dalang Cilik Wayang Cirebon


Unaryo: Berharap tradisi Wayang Cirebon dapat dikenal lebih luas
Keberanian adalah bekal utamanya untuk tampil dalam perhelatan besar Festival Dalang Bocah Nasional III 2011. Dengan persiapan yang tergolong sebentar, Unaryo, peserta festival penyaji wayang Cirebonan berhasil mengesampingkan rasa ragunya, dan dengan percaya diri dimainkannya kisah Bambang Erawan Gugur.

Didampingi ayahnya yang juga menjabat Ketua Pepadi Cirebon, Unaryo berbagi sedikit tentang pengalamannya belajar mendalang khas Cirebon. Unaryo mengaku awalnya merasa kurang terdorong untuk mempelajarinya. Hal ini lebih karena Wayang Cirebon tidak sepopuler wayang Surakarta maupun Yogyakarta. Tidaklah mudah baginya, terlebih untuk wayang Cirebon tidak mudah memperoleh CD rekamannya sebagai media untuk membantunya berlatih.  Namun, dengan seringnya ayahnya mengajaknya ikut menontonnya mendalang serta melibatkannya dalam kegiatan-kegiatan karawitan Cirebonan, perlahan memunculkan ketertarikannya lebih jauh.  Untungnya, ayahnya adalah seorang penggiat seni tradisi yang juga mengembangkan sebuah sanggar wayang, Sanggar Langen Muda, tempat berlatihnya para peminat wayang dan karawitan  gaya Cirebon. Minat Unaryo terhadap mendalang juga banyak dipengaruhi kegiatan-kegiatan ayahnya dalam berkesenian.

Kemauan Unaryo untuk akhirnya mempelajari dunia mendalang secara lebih jauh tentu saja sangat melegakan hati ayah dan ibunya, yang juga memiliki garis keturunan dalang.Tidak saja dia akan meneruskan tradisi keluarga, tetapi juga tradisi masyarakat yang lebih luas, masyarakat yang meminati gaya Wayang Cirebon secara umum. Siswa kelas 3 SMP Gegesik Cirebon ini baru belajar mendalang dalam waktu 2 bulan. Namun, dengan kemauan belajar yang kuat, Unaryo mampu mengatasi pelbagai kesulitan, mulai dari mempelajari sabet, mencerna cerita, membangun penokohan dan, yang diakuinya menjadi bagian tersulit, menguasai gendhing. Unaryo harus berjuang untuk mempertajam kepekaannya dalam mengenali nada untuk melagukan suluk dengan benar, serta melakukan penyesuaian terhadap laras gamelan yang mengiringinya.

Selain mendalang, Unaryo juga menggeluti dunia karawitan Cirebon. ‘Karawitan Cirebon berbeda dengan karawitan Surakarta dan Yogyakarta. Ada beberapa instrumen standar yang tidak ada di dalam kedua jenis gamelan tersebut. Misal, kendang di Cirebon ada lima jenis, dan juga ada instrumen cemanak.’

Ditanya mengenai dalang favoritnya, Unaryo langsung mengarahkan pandangannya ke ayahnya.’ Saya mengagumi ayah, baik sebagai dalang maupun sebagai guru berlatih,’ ujarnya. Unaryo dengan rendah hati mengakui masih begitu banyak kekurangan yang harus dibenahinya, namun, ayahnya tidak pernah lelah untuk membimbingnya. Bahkan dia kini bercita-cita ingin menjadi dalang,meski disadarinya bahwa masih panjang jalan yang harus ditempuhnya untuk menjadi dalang yang baik, terlebih dalang Wayang Cirebon yang kurang banyak dikenal oleh khalayak. Namun, itu tidak menyurutkan niatnya untuk mengembangkan dan menjaga tradisi ini. ‘Jika bukan kami dari masyarakat pemilik budaya Cirebon yang menjaga dan mengembangkan tradisi ini, siapa lagi? Untuk itu anak-anak dan remaja perlu mempelajarinya,’ ayahnya menutup perbincangan  kami seraya tersenyum.

28 Februari 2013

Lawang Sanga, Gerbang Keraton yang terlupakan…

by Cirebon Heritage West Java on Friday, May 25, 2012 at 9:14pm

Terhimpit diantara rumah-rumah penduduk yang berdiri sesak dengan gang-gang sempit disekeliling-nya, Lawang Sanga seolah tak lagi memperlihatkan keanggunannya. Bangunan yang dahulu menjadi pintu gerbang masuk utama ke Keraton dari arah perairan ini semakin merana karena beberapa bagian-nya sudah runtuh, rusak dan bahkan hilang tak berbekas. Jalan inspeksi sepanjang Kali Kriyan juga seolah menenggelamkan bangunan ini karena permukaan lantai menjadi lebih rendah dari jalan di sekitarnya. Belum lagi ketidak pedulian masyarakat sekitar untuk memelihara kebersihan lingkungan menjadi faktor utama makin kumuhnya kawasan ini. Lawang sanga masih berdiri menghadap langsung ke dermaga Kali Kriyan, hanya saja gerbang utama perairan  itu sekarang bukan menjadi kawasan dermaga yang sibuk dimana perahu-perahu ditambatkan disana, tetapi berubah menjadi tempat pembuangan sampah dan WC Umum.. sungguh menyedihkan !!!

Lawang Sanga merupakan bangunan bersejarah dan termasuk dalam bangunan cagar budaya. Letaknya di tepi Kali Kriyan di bagian belakang Komplek Keraton Kasepuhan. Bangunan ini mempunyai peranan yang sangat penting pada masa lalu karena tamu-tamu Kesultanan Cirebon yang akan singgah ke istana datang dan pergi dari pintu tersebut. Peranan Lawang Sanga ini tidak hanya dalam bidang sosial ekonomi saja, akan tetapi juga dalam bidang lain seperti kebudayaan, pendidikan dan politik. Pada jaman dahulu Kesultanan Cirebon yang merupakan Kesultanan Islam yang cukup besar telah mengadakan hubungan multilateral dengan negara, bangsa dan kerajaan lain, seperti dari Gujarat, Campa, Cina, Arab dan lain sebagainya. Peranan Lawang Sanga sebagai pintu gerbang Keraton dari arah perairan Laut Jawa ini demikian penting sehingga konon dahulu daerah tersebut dahulu merupakan daerah yang cukup sibuk.

Selain sebagai bangunan penerima dari arah perairan menuju Keraton, Lawang Sanga juga merupakan bangunan simbolis yang berperan pada rangkaian tradisi Syafaran yang dilakukan oleh masyarakat tradisional di Cirebon. Bangunan Lawang Sanga sendiri merupakan bangunan berdinding batu bata dengan pintu yang berjumlah sembilan (lawang = pintu, sanga = sembilan).

Pintu berjumlah sembilan ini secara filosofi merupakan perlambangan dari sembilan lubang yang ada pada tubuh manusia. Di dalam kehidupan manusia, kesembilan lubang tersebut harus selalu dijaga agar tetap bersih. Manusia harus memfungsikan kesembilan lubang tersebut menurut ketentuan dan kepatutannya sehingga nantinya akan memperoleh derajat yang mulia.

 Bangunan Lawang Sanga mempunyai gaya arsitektur yang unik karena merupakan perpaduan dari berbagai unsur budaya, yaitu Hindu, Eropa dan Cina. Konstruksi atap bangunan berbentuk atap tajug akan tetapi tidak didukung oleh konstruksi kuda-kuda. Konstruksi atap berdiri di atas gunungan (sopi-sopi) dengan bentuk lengkung lancip diatasnya (berbentuk kujang), dengan bagian serambi depan dan belakang ditopang oleh dua buah sekur yang mempunyai gaya yang hampir sama dengan sekur-sekur pada bangunan Cina. Konstruksi tajug yang berbentuk piramid berdiri diatas sekur, sehingga gaya beban dari kostruksi atap tidak ditopang oleh dinding dan gunungan, akan tetapi disalurkan melalui sekur dan tiang kolom. Konstruksi atap terbuat dari kayu dengan penutup atap dari genteng. Sedangkan di bagian dinding terdapat daun pintu yang cukup besar terbuat dari kayu.

Bagian keliling bangunan berupa tembok batu bata dengan perlubangan dinding berbentuk lengkung setengah lingkaran. Bagian inilah yang disebut sebagai lawang atau pintu. Jumlah pintu tersebut adalah 9 dengan pembagian sebagai berikut : 1 pintu gerbang utama yang mempunyai daun pintu, 2 pintu merupakan gerbang paduraksa di kiri kanan bangunan, 1 buah gerbang padu raksa di samping kanan bangunan,   2 di sebelah kanan kiri belakang,  dan 3 buah pintu dengan konstruksi lengkung busur di belakang bangunan.

Pada saat ini kondisi bangunan Lawang Sanga sangatlah memprihatinkan dikarenakan minimnya perawatan sehingga beberapa bagian bangunan sudah rusak dan bahkan runtuh. Keadaan ini diperparah oleh adanya pemukiman penduduk yang menghimpit bangunan Lawang Sanga sehingga kawasan tersebut menjadi kawasan pemukiman yang padat. Akses dari Lawang Sanga ke Keraton telah tertutup oleh pemukiman padat, sehingga untuk mencapai Keraton kita harus menyusuri gang-gang sempit diantara pemukiman penduduk.

Di kiri kanan bangunan Lawang Sanga tersebut dahulu terdapat gerbang paduraksa. Pada saat ini salah satu gerbang tersebut konstruksi atapnya sudah runtuh, sedangkan gerbang yang satunya sudah tidak bersisa sama sekali. Gerbang di samping kanan dengan dua arca Singa Barong berwarna putih di depannya, kondisinya juga sudah tidak baik lagi. Di sekeliling bangunan Lawang Sanga sekarang dibatasi oleh dinding tembok batu-bata untuk membatasinya dengan pemukiman penduduk. Akan tetapi tembok keliling yang sebenarnya yang terdapat di sekitar Lawang Sanga tersebut, sebenarnya menjadi satu kesatuan dengan tembok Keraton. Di bagian belakang kami juga menemui adanya gerbang Candi Bentar yang di bagian kiri dan kanannya terdapat arca berbentuk ular naga. Sayang sekali bagian kepala arca tersebut dua-duanya juga sudah tidak utuh lagi.

Menurut penuturan dari Bapak Suari, Kuncen Lawang Sanga, pada waktu beliau kecil di bagian sisi kanan bawah Lawang Sanga tersebut dahulu terdapat terowongan yang menghubungkan sungai dengan Keraton.  Jalan tersebut tembus ke Balong Gede yang terletak di bagian belakang Keraton Kasepuhan. Dikarenakan adanya pendangkalan maka lama kelamaan lubang terowongan tersebut akhirnya tertutup dan sekarang ini sudah tidak terlihat lagi.

Kondisi di depan Lawang Sanga saat ini telah diperkeras dengan jalan beraspal, sedangkan akses menuju ke sungai dibuat turap berundak. Di depan turap tersebut menjadi tempat pembuangan sampah, sehingga kawasan tersebut menjadi kotor dan bau. Sedangkan akses pejalan kaki menuju gerbang Keraton tertutup oleh pemukiman penduduk. Bahkan penduduk setempat memanfaatkan ruang di sisi dinding Keraton sebagai tempat menjemur pakaian.

Agaknya perlu dipikirkan lagi untuk merelokasi pemukiman di sekitar Lawang Sanga, jika kawasan tersebut akan dikembangkan sebagai Kawasan Wisata, sekaligus mengembalikan fungsi bangunan sebagai Gerbang Utama Keraton dari arah perairan Laut Jawa.

Dengan kondisi diatas maka penting adanya usaha penataan kembali dengan merehabilitasi dan merevitalisasi kawasan tersebut mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan cagar budaya yang perlu dipelihara dan dilestarikan keberadaannya.