22 Januari 2009

CIREBON & BUDAYA INDONESIA

Saya lahir di Kota Cirebon. Kota wali. Kota budaya. Kota udang. Bukan otak udang.
Terima kasih yang teramat besar atas liputan asoy geboy dari papabonbon. Tulisannya tentang persiapan ke Tjeribon. Juga perihal nasi jamblang yang memang tiada duanya dan perihal denyut nadi industri rotannya.
Cirebon sejatinya adalah kota tua peninggalan sejarah pantura. Mistis. Menarik. Menakjubkan. Sungguh!
Menyesal juga tidak bisa menemani blogger keren nan beken ini keliling Cirebon. Mau bagaimana lagi, saya harus menemani anak-istri menuju Boyolali di saat tahun baru kemarin.
Kota tua dan kota budaya bukanlah hasil rekayasa seketika. Perlu proses menahun bahkan ratusan tahun untuk menjadikannya. Affandi, sang Maestro, lahir di daerah Plumbon Cirebon. Nano Rintiarno penggagas Teater Koma, besar di kota ini. Saya dan Anjar juga.
:P
Cobalah tengok gaya hidup masyarakat Cirebon tradisional dengan bermacam budaya yang bernafaskan keislaman. Pengaruh Sunan Gunung Jati sangat kentara.
Tahukah anda dengan “Salawat Brahi”? Atau gamelan Cirebon yang khas, sampai dipelajari oleh Richard North warga kebangsaan Amerika Serikat. Juga budaya tari topeng yang melegenda.
Apakah anda pernah menyaksikannya sendiri, di pelataran rumah pinggir pematang sawah, dengan nuansa cuaca pantura yang terik, namun sejuk, yang terang dan rupawan?
Tentu saja gamelan bukan semata-mata milik warga Cirebon. Hampir seluruh kota di pulau Jawa-Bali, bahkan hingga Malaysia terdapat seni gamelan. Maka tak aneh bila berbagai lembaga kebudayaan dunia, sangat antusias mempelajari seni budaya eksotis ini.
Tercatat beberapa lembaga seperti komunitas gamelan network di Inggris dan American Gamelan Institute yang menyediakan gamelan siap dengar via iTunes. Bayangkan, bagaimana sejatinya budaya lokal sangat diminati dan dimaknai secara keilmuan bahkan meresap dalam budaya-gaya hidup warga asing.
Salawat Brahi
Salawat Brahi
Sujiwo Tejo pernah berujar:
“Saya yakin setiap daerah memiliki kekayaan budayanya masing-masing. Saya percaya penjajahan fisik sudah tak ada, tetapi mereka, Eropa dan Amerika meninggalkan Bank Sentral di setiap negara, dan mengembalikan kepala negara dengan Bank Sentralnya…
Tetapi yang sangat lupa Eropa dan Amerika meninggalkan estetika kepada kita..
Sehingga yang dikenal anak-anak kita adalah do-re-mi-fa-so-la-ti-do, padahal di Banyuwangi, Batak, Flores dan setiap daerah tangga nadanya berbeda…”
Maka dengarkanlah melodi banyuwangi dalam “PADA SUATU KETIKA” menang dalam MTV ASIA tahun 1998.
Sampai kapan angkara murka ini berakhir..
Ada yang melihat sebaran daun kara
Berkabarlah..
Untuk sementara waktu pengakhir angkara murka..
Titi kala mongso..
Momentum…
Cirebon. Indonesia. Budaya. Manusia. Bersyukur dan berdamailah

sumber: kopidangdut.wordpress.com

0 komentar:

Poskan Komentar