16 Februari 2008

Panjang Jimat

Upacara pelal Panjang Jimat merupakan puncak dari serangkaian berbagai acara tradisi Muludan yang berlangsung di Keraton Kasepuhan, Keraton Kasultanan Kanoman dan Keraton Kacirebonan. Bagi masyarakat kota Cirebon dan sekitarnya, acara tradisi Muludan tersebut sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka sejak kecil, meski lambat laun pengaruh kultural Keraton semakin pudar ditelan kemajuan zaman.
Puncak dari seluruh rangkaian acara tersebut adalah upacara pelal Panjang Jimat yang diselenggarakan langsung oleh kerabat keraton dan dipimpin oleh sultan masing-masing juga dihadiri oleh para undangan serta pejabat penting.
Sultan Sepuh XIII Maulana Pakuningrat, menjelaskan nama Panjang Jimat terdiri atas dua kata, yaitu “panjang” yang artinya terus menerus tanpa terputus dan “jimat” yang merupakan akronim dalam bahasa Jawa : siji kang dirumat (satu yang dipelihara, red).
Menurut Sultan Sepuh, jimat yang dimaksud adalah dua kalimat syahadat yang menjadi pegangan utama umat muslim sedunia. Jadi, makna panjang jimat adalah pesan kepada setiap umat Islam untuk selalu berpegang kepada dua kalimat syahadat selamanya, terus menerus tanpa terputus.
Pelaksaanaan puncak upacara Panjang Jimat dilangsungkan di Bangsal Panembahan dan Bangsal Prabayaksa, dua ruang utama Keraton Kasepuhan. Bangsal Panembahan merupakan ruangan paling sakral di keraton, tempat para ulama dan kyai berdoa. Sementara, Bangsal Prabayaksa adalah tempat Sultan dan seluruh keluarga serta para tamu undangan mengikuti upacara.
Setelah payung kebesaran diserahkan, satu demi satu perlengkapan upacara dikeluarkan dari Keputren dan Bangsal Pringgadani untuk disemayamkan sejenak di Bangsal Prabayaksa, sebelum dibawa dalam sebuah prosesi menuju Langgar Agung.
Di Keraton Kasepuhan, prosesi Panjang Jimat terdiri atas sembilan kelompok, yang masing-masing memiliki makna tersendiri berkaitan dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Kelompok pertama, terdiri atas para punggawa dan pengawal keraton yang membawa obor serta payung. Kelompok pertama ini menggambarkan kesiapan Abdul Mutholib, kakek Nabi Muhammad Saw, yang siap siaga menyambut kelahiran Nabi Muhammad Saw. Obor menggambarkan kelahiran Nabi Muhammad pada malam hari.
Kelompok kedua adalah kelompok perangkat upacara yang membawa manggaran, nagan, dan jantungan (semacam hiasan upacara terbuat dari logam berwarna keemasan, berbentuk seperti manggar atau tangkai bunga kelapa, ular naga dan jantung pisang). Perangkat upacara tersebut menggambarkan kebesaran dan keagungan bayi yang hendak lahir. Dalam kelompok kedua juga terdapat pembawa air mawar dan pasatan (sedekah) yang melambangkan keahiran seorang bayi selalui didahului pecahnya air ketuban, dan disyukuri dengan memberikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan.
Kelompok ketiga terdiri atas putra mahkota yang mewakili sultan dengan dinaungi payung agung keraton dan diiringi para sesepuh keraton. Kelompok ini sebagai simbol bayi yang baru lahir dan kelak akan menjadi seorang pemimpin besar.
Selanjutnya disusul kelompok keempat yang dipimpin oleh Kyai Penghulu dan rombongan pembawa kembang goyang yang melambangkan keluarnya ari-ari sebagai pengiring kelahiran, dan boreh atau sejenis jamu yang diberikan kepada ibu yang baru melahirkan guna menjaga kesehatannya. Kelompok ini juga diiringi tujuh pembawa nasi rasul panjang jimat, yaitu nasi yang ditempatkan dalam bakul-bakul dan ditutupi menggunakan kain mori putih. Bilangan tujuh melambangkan jumlah hari dalam seminggu.
Kelompok kelima yang membawa sepasang guci yang berisi minuman serbat. Minuman tersebut melambangkan darah sebagai tanda bahwa kelahiran telah usai. Dibelakangnya menyusul kelompok keenam yang membawa empat baki berisi botol-botol minuman serbat. Angka empat melambangkan bahwa manusia terdiri dari empat unsur, yaitu tanah, air, api dan angin.
Kelompok ketujuh terdiri atas pembawa enam wadah masing-masing berisi nasi uduk (nasi berasa gurih), tumpeng, jeneng dan nasi putih. Rombongan ini melambangkan bahwa bayi yang baru lahir perlu diberi nama (jeneng) yang baik dengan harapan kelak menjadi orang yang berguna.
Kelompok kedelapan terdiri atas empat buah meron (semacam baki besar yang dipikul) berisi bermacam-macam makanan hidangan untuk peserta asrakalan di langgar agung, disusul empat dongdang (pikulan besar berbentuk rumah-rumahan) yang juga berisi berbagai macam lauk-pauk dan makanan kecil untuk hidangan peserta asrakalan.
Kelompok terakhir atau kesembilan adalah rombongan para Sentana Wargi (kerabat keraton), Nayaka (tetua atau sesepuh), dan para undangan yang ingin mengikuti langsung upacara Asrakalan di Langgar Agung.
Sesuai tradisi, ritual panjang jimat di Keraton Kanoman dipimpin oleh Pangeran Patih PRM Qodiran mewakili Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emiruddin. Dengan mengenakan jubah emas dan menggunakan surban putih bermahkota kecil, dia memimpin puncak acara maulid. Selama mengenakan jubah, Pangeran Patih tidak diperkenankan berbicara sepatah katapun. Seluruh barisan pawai panjang jimat, telah mempersiapkan segalanya di Langgar Keraton. Barisan ke-1, Bandrang Keraton (prajurit pembawa tumbak). Barisan ke-2 adalah panji kebesaran/bendera Macan Ali (berbentuk macan berhiaskan kaligrafi kalimat Thoyyibah Laa Ilaaha Illalllaah). Barisan ke-3, Tunggal Naga yang merupakan salah satu pusaka Cirebon jaman Panembahan Ratu (Raja Cerbon ke-2). Barisan ke-4, patih Kasultanan Kanoman mewakili Sultan yang memimpin prosesi. Dan, barisan ke-5, tujuh buah tumpeng, jeneng dan buah-buahan.
Setelah waktunya, loncang Gajah Mungkur dibunyikan sebanyak 9 kali dan puluhan famili diiringi ratusan orang abdi dalem yang diantaranya membawa beragam bentuk kelengkapan acara, langsung berjalan sambil mengumandangkan sholawat nabi menuju depan pendopo, kemudian melewati pintu Si Blawong dan berakhir di Masjid Agung Kanoman yang di bangun sekitar taun 1679 masehi untuk mendengarkan riwayat Nabi, Al Barzanji, kalimat Thoyyibah (menyebut asma Allah), Sholawat Nabi dan ditutup dengan doa bersama.
Taken from Radar Cirebon, 1 April 2007 – 13 Rabiul awal 1428H
Pustaka : Muludan Bermakna? Karya Drs. Abdulloh Ali, M.Ag, 2004

2 komentar:

selamat buat teman-teman gunung jati yang sdah berusaha utk intternasional....
mungkin keter

Poskan Komentar